Peran Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam Pembentukan Karakter Mahasiswa di Era Digital

Di era digital yang penuh dengan dinamika dan tantangan baru, pendidikan karakter menjadi komponen vital yang tak dapat diabaikan dalam membentuk pribadi mahasiswa yang unggul. Dunia yang serba cepat, diiringi derasnya arus informasi serta pengaruh budaya global, memunculkan berbagai tantangan bagi generasi muda. Mahasiswa sering kali berada pada posisi rentan dalam menyerap berbagai pengaruh luar, termasuk di antaranya norma-norma yang tidak selalu selaras dengan budaya dan nilai-nilai bangsa, terlebih nilai-nilai Islam.

Dalam konteks perguruan tinggi Muhammadiyah, pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) memainkan peran strategis dalam membantu mahasiswa membangun karakter Islami yang kokoh, relevan, dan kontributif di era digital. Pendidikan AIK tidak hanya berfokus pada pemahaman teoritis terhadap ajaran Islam, tetapi juga praktik dan internalisasi nilai-nilai Islam dalam keseharian. Melalui pendidikan AIK, mahasiswa diajarkan untuk mengembangkan karakter yang dapat menjadi fondasi mereka menghadapi tantangan era digital yang sarat dengan kebebasan dan dinamika global. 

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Pendidikan karakter dalam Islam memiliki akar yang mendalam, yakni pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Islam memandang pembentukan karakter sebagai hal yang utama, bahkan Rasulullah diutus dengan misi utama memperbaiki akhlak umat manusia. Pendidikan karakter dalam Islam berfokus pada penanaman nilai-nilai kejujuran, amanah, keadilan, tanggung jawab, dan empati yang kesemuanya tidak hanya melibatkan kecerdasan kognitif, tetapi juga pengendalian diri dan kesadaran moral.  Pembentukan karakter dalam Islam berakar pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menekankan pentingnya akhlak dalam berbagai ayat, seperti yang termaktub dalam surah Al-Baqarah ayat 177:

“لَيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَـٰمَىٰ وَٱلْمَسَـٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَـٰهَدُوا۟ وَٱلصَّـٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ”

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan dan ketakwaan tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam akhlak yang mulia dan komitmen sosial terhadap sesama.

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya karakter yang baik sebagai bagian dari misi kerasulannya:

“إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ ٱلْأَخْلَاقِ”

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa pembentukan akhlak menjadi inti dari ajaran Islam. Di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah, pendidikan AIK bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadikan akhlak mulia sebagai landasan utama. Mahasiswa tidak hanya diajarkan spiritualitas, tetapi juga didorong untuk memiliki komitmen sosial yang kuat sesuai dengan filosofi “Amar ma’ruf nahi munkar” (أَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ نَهِيٌّ عَنِ الْمُنْكَرِ), yang berarti mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Tantangan Era Digital dan Relevansi Pendidikan AIK

Era digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar bagi karakter mahasiswa. Kebebasan informasi yang ada dapat dengan cepat memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Salah satu tantangan besar adalah media sosial yang tidak hanya menjadi wadah berbagi, tetapi juga tempat bagi potensi pengaruh negatif. Misalnya, jika tidak disikapi dengan bijak, media sosial bisa menjadi sarana untuk menyebarkan hoaks, konten negatif, hingga norma yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Melalui pendidikan AIK, mahasiswa didorong untuk memilah informasi dengan bijak. Mereka belajar mengidentifikasi informasi yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan berusaha menghindari pengaruh yang merugikan diri sendiri dan lingkungan sekitar. Pendidikan AIK membantu mahasiswa membangun daya tahan mental dan ketahanan moral dalam menghadapi godaan dunia digital, seperti ketergantungan media sosial, konsumsi informasi yang tidak sehat, dan budaya konsumerisme. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan pentingnya memilah antara yang baik dan buruk:

“وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّـٰلِمِينَ نَارًۭا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ”

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’ Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.” (QS. Al-Kahfi: 29).

Ayat ini mengajarkan mahasiswa agar bijaksana dalam menentukan pilihan mereka, dan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyimpang dari prinsip Islam. Dengan demikian pendidikan AIK, dalam perguruan tinggi Muhammadiyah, bertujuan menanamkan nilai-nilai luhur yang mengedepankan akhlak mulia sebagai landasan dalam setiap tindakan mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya diajarkan aspek spiritualitas, tetapi juga dimotivasi untuk memiliki komitmen sosial yang kuat, sesuai dengan filosofi “Amar ma’ruf nahi munkar” atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Tantangan Era Digital dan Relevansi Pendidikan AIK

Era digital menghadirkan banyak peluang, tetapi juga tantangan bagi karakter mahasiswa. Kebebasan informasi dan keterbukaan budaya sering kali membingkai persepsi dan sikap mahasiswa dengan cepat, mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Media sosial, misalnya, bisa menjadi sarana positif untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan, namun tanpa pengendalian diri yang baik, juga dapat menjadi sumber distraksi atau penyebaran informasi negatif.

Dengan pendidikan AIK, mahasiswa dipersiapkan untuk memilah informasi dengan bijak, menilai mana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan mana yang tidak. Mereka diharapkan mampu menghadapi tantangan era digital dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip Islam sebagai kompas dalam menjalani kehidupan. Pendidikan AIK membantu mahasiswa membangun daya tahan mental dan ketahanan moral dalam menghadapi godaan dari dunia digital, seperti ketergantungan media sosial, konsumsi informasi yang tidak sehat, hingga budaya konsumerisme.

Penerapan Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Pendidikan AIK di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga diterapkan dalam bentuk kegiatan nyata. Beberapa contoh penerapan pendidikan AIK di kampus Muhammadiyah meliputi:

  1. Kajian Rutin dan Mentorship Keagamaan

Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengikuti kajian keislaman secara rutin yang membahas berbagai isu kontemporer, termasuk nilai-nilai Islam dalam menghadapi perkembangan era digital. Program mentorship yang dibimbing oleh dosen atau senior juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan mendapatkan masukan yang bernilai.

  1. Program Pengabdian Masyarakat Berbasis AIK

Pengabdian masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan di perguruan tinggi Muhammadiyah, kegiatan ini kerap kali diintegrasikan dengan pendidikan AIK. Mahasiswa diterjunkan ke masyarakat untuk menjalankan program-program yang mendorong kesadaran sosial dan tanggung jawab, seperti kegiatan dakwah atau layanan kesehatan gratis, yang membantu mereka mengasah kepedulian dan tanggung jawab sosial.

  1. Integrasi AIK dalam Mata Kuliah dan Aktivitas Kampus

Beberapa mata kuliah di perguruan tinggi Muhammadiyah diintegrasikan dengan nilai-nilai AIK. Mahasiswa diajarkan untuk melihat setiap disiplin ilmu dari perspektif Islam, baik itu ilmu sosial, sains, maupun humaniora. Hal ini memungkinkan mahasiswa menghubungkan nilai-nilai keislaman dengan bidang keahlian yang mereka tekuni.

  1. Pembiasaan Ibadah dan Program Pembinaan Akhlak

Di beberapa kampus Muhammadiyah, kegiatan ibadah seperti salat berjamaah dan tadarus Al-Qur’an secara rutin difasilitasi. Melalui pembiasaan ini, diharapkan mahasiswa memiliki fondasi spiritual yang kuat untuk mendukung ketahanan diri mereka dalam menghadapi berbagai pengaruh digital. 

Dampak Pendidikan AIK dalam Kehidupan Mahasiswa

Pendidikan AIK memberikan dampak positif bagi mahasiswa Muhammadiyah dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Beberapa dampak nyata dari pendidikan AIK antara lain:

  1. Meningkatkan Integritas Diri dan Kesadaran Sosial

Mahasiswa yang menjalani pendidikan AIK menunjukkan peningkatan dalam hal kejujuran, empati, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka juga cenderung lebih peka terhadap isu-isu sosial dan berupaya mencari solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

  1. Menguatkan Identitas Keislaman

Di tengah pengaruh budaya asing yang masuk melalui media sosial, mahasiswa yang memiliki fondasi AIK yang kuat lebih mampu mempertahankan identitas keislamannya. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh gaya hidup konsumtif atau pandangan yang bertentangan dengan nilai Islam.

  1. Penguasaan Teknologi Berbasis Nilai

Mahasiswa Muhammadiyah diajarkan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki etika dalam menggunakannya. Penguasaan teknologi harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial dan kontrol diri yang kuat, agar teknologi benar-benar menjadi alat yang membawa manfaat, bukan sebaliknya.

Kesimpulan

Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) memainkan peran sentral dalam membentuk karakter mahasiswa di perguruan tinggi Muhammadiyah, terutama dalam menghadapi tantangan era digital yang penuh dinamika. Sebagai pilar pendidikan di lingkungan Muhammadiyah, AIK tidak hanya mengajarkan nilai-nilai spiritual dan ibadah semata, tetapi juga membekali mahasiswa dengan dasar moral yang kokoh untuk menghadapi kompleksitas dan pengaruh luar yang datang dari berbagai arah. Dalam kehidupan yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, informasi yang cepat, dan budaya global, mahasiswa dihadapkan pada berbagai pilihan dan tantangan, mulai dari konsumsi media sosial, akses informasi tanpa batas, hingga gaya hidup konsumtif yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman.

AIK memberikan landasan bagi mahasiswa untuk memilah mana yang benar dan salah, sesuai dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Pembelajaran AIK tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan terintegrasi dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan kampus, melalui berbagai program yang berorientasi pada pembentukan karakter Islami. Kegiatan seperti kajian keagamaan, pembinaan akhlak, hingga program pengabdian masyarakat yang berbasis nilai-nilai Islam mengajarkan mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pribadi yang religius, tetapi juga berjiwa sosial. Mahasiswa diharapkan mampu menghadapi tantangan era digital dengan tetap memegang teguh prinsip Islam sebagai pedoman utama dalam bersikap dan bertindak.

Dampak dari pendidikan AIK ini dapat dilihat dalam beberapa aspek. Mahasiswa yang mendapatkan pembinaan AIK cenderung memiliki integritas diri yang lebih kuat, kesadaran sosial yang tinggi, serta penguasaan teknologi yang bijaksana. Mereka lebih mampu menempatkan diri di tengah lingkungan yang cepat berubah, sekaligus mempertahankan identitas keislaman mereka. Dengan pendidikan AIK, mahasiswa juga lebih kritis dalam menyikapi informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. AIK mendorong mahasiswa untuk menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab, sehingga teknologi dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendukung peran mereka sebagai agen perubahan yang positif.

Kesimpulannya, pendidikan AIK di perguruan tinggi Muhammadiyah membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menavigasi kehidupan di era digital tanpa kehilangan jati diri keislaman mereka. Pendidikan AIK bukan hanya mengajarkan mahasiswa tentang ajaran agama, tetapi juga menanamkan prinsip-prinsip moral yang menjadi fondasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pendidikan AIK, mahasiswa Muhammadiyah diharapkan mampu berkontribusi sebagai generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan berkomitmen untuk menebar kebaikan di masyarakat. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman, menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan berkontribusi aktif dalam membangun peradaban yang berlandaskan akhlak mulia. Dengan demikian, AIK tidak hanya berfungsi sebagai mata kuliah atau program kampus semata, tetapi sebagai bekal seumur hidup bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan di era digital yang penuh tantangan dan peluang.

 

Referensi

Arifin, Z. (2017). Pendidikan Islam di Era Digital. Jakarta: Pustaka Al-Ikhlas.

Nasrullah, R. (2018). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Rahmawati, I. (2020). “Pendidikan Karakter Berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada Mahasiswa.” Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 76-89.

Syaiful, A. (2021). “Pembentukan Karakter Islami dalam Pendidikan Muhammadiyah.” Jurnal Pendidikan Islam, 9(2), 104-118.

Kontributor

Anjas Alifah Bakry