Menghidupkan Pesan Tauhid dan Kesatuan dalam Al-Baqarah 136-138: Meneguhkan Keimanan dan Identitas sebagai Muslim
Surah Al-Baqarah ayat 136 hingga 138 menyampaikan pesan yang sangat mendalam tentang keimanan, kesatuan ajaran yang dibawa oleh para nabi, dan identitas umat Islam sebagai pengikut Allah yang sejati. Ayat-ayat ini tidak hanya menegaskan kesamaan ajaran tauhid yang disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu, tetapi juga memberikan panduan bagi umat Islam untuk meneguhkan keimanan mereka dan menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga identitas sebagai seorang muslim.
Ayat 136
قُولُوا۟ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍۢ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
Terjemahan:
“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami hanya tunduk kepada-Nya.'” (QS. Al-Baqarah: 136)
Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam beriman kepada Allah dan seluruh wahyu yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya. Ini mengajarkan pentingnya memahami bahwa ajaran tauhid tidak terpisah-pisah antara satu nabi dan nabi lainnya. Semua nabi menyerukan pesan yang sama, yakni menyembah Allah yang Maha Esa. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti menghormati keragaman dalam agama sambil tetap teguh dalam prinsip tauhid.
Ayat 137
فَإِنْ ءَامَنُوا۟ بِمِثْلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهْتَدَوا۟ ۖ وَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّمَا هُمْ فِى شِقَاقٍۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ ٱللَّهُۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Terjemahan:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk; tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka (berada) dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)
Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah dan ajaran para nabi adalah jalan menuju petunjuk. Namun, jika ada yang berpaling dari ajaran tersebut, mereka telah memilih untuk menyimpang dari kebenaran. Allah menjamin perlindungan-Nya bagi orang-orang beriman. Pesan ini memberikan ketenangan kepada umat Islam bahwa Allah akan senantiasa menjaga mereka dari ancaman pihak yang memusuhi kebenaran. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ini mengajarkan kita untuk tetap berpegang teguh pada kebenaran, meskipun dihadapkan pada tantangan dan tekanan.
Ayat 138
صِبْغَةَ ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ صِبْغَةًۭ ۖ وَنَحْنُ لَهُۥ عَٰبِدُونَ
Terjemahan:
“Shibghah Allah (celupan Allah). Dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya kami menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 138)
Ayat ini menegaskan identitas seorang muslim sebagai hamba Allah yang sejati. Istilah shibghah (celupan) merujuk pada identitas atau karakter yang melekat pada seorang muslim, yang terbentuk melalui keimanan kepada Allah. Shibghah Allah adalah ajaran Islam yang memberikan warna kehidupan seorang muslim, yang memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti bahwa seorang muslim harus menunjukkan karakter Islam yang kuat dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam hubungan sosial, pekerjaan, maupun ibadah.
Makna dan Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari
- Menjaga Persatuan dalam Keberagaman
Ayat 136 mengajarkan kita untuk menghormati para nabi dan wahyu yang diturunkan kepada mereka, tanpa membeda-bedakan. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti menjaga sikap toleransi terhadap sesama, baik sesama muslim maupun antar umat beragama. Kita diajak untuk menghormati perbedaan dalam menjalankan syariat, sambil tetap teguh pada prinsip tauhid yang menjadi inti dari ajaran Islam.
- Berpegang Teguh pada Keimanan
Ayat 137 mengingatkan kita untuk tidak gentar menghadapi pihak-pihak yang memusuhi atau menentang kebenaran. Seorang muslim harus terus berpegang teguh pada ajaran agama, dengan keyakinan bahwa Allah akan selalu melindungi mereka yang berada di jalan kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti tetap menjalankan kewajiban agama meskipun menghadapi tekanan atau tantangan, baik dalam lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat.
- Menampilkan Identitas Islam yang Kuat
Ayat 138 menegaskan pentingnya shibghah Allah, yakni karakter keislaman yang melekat dalam diri seorang muslim. Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim harus mencerminkan ajaran Islam dalam segala aspek, seperti kejujuran, integritas, kasih sayang, dan keadilan. Identitas ini tidak hanya terlihat dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam interaksi sosial, seperti membantu sesama, menjaga lingkungan, dan bersikap adil.
- Menjadikan Tauhid sebagai Dasar Kehidupan
Tauhid bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi juga harus menjadi landasan dalam setiap keputusan dan tindakan. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah hidup, baik melalui doa, istikharah, maupun menjalankan kehidupan sesuai syariat Islam.
- Menyebarkan Pesan Islam dengan Bijak
Sebagai umat Islam, kita diajak untuk menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang baik dan bijaksana. Pesan toleransi dan kesatuan yang diajarkan dalam ayat-ayat ini bisa menjadi inspirasi dalam berdakwah, yaitu dengan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai-nilai Islam dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Kesimpulan
Surah Al-Baqarah ayat 136-138 merupakan kumpulan ayat yang memberikan pedoman mendalam tentang bagaimana seorang muslim seharusnya membangun dan memelihara keimanan, menjaga persatuan umat, serta menunjukkan identitas keislaman yang kuat dalam kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan dari ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu, dari Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, hingga Musa, Isa, dan nabi-nabi lainnya. Keimanan yang diajarkan oleh Al-Qur’an mencakup penghormatan terhadap semua nabi dan kesatuan wahyu yang mereka sampaikan. Ini mengajarkan umat Islam untuk tidak membeda-bedakan para nabi, melainkan mengimani mereka sebagai utusan Allah yang menyampaikan pesan yang sama: tauhid.
Lebih jauh, ayat ini memberikan pelajaran tentang bagaimana umat Islam harus menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul, baik dari individu maupun kelompok yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Dalam menghadapi situasi semacam ini, umat Islam diajak untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan dan tidak terpengaruh oleh ancaman atau pengaruh luar. Keimanan yang kokoh kepada Allah akan memberikan kekuatan untuk menghadapi segala rintangan, dengan keyakinan bahwa Allah selalu mendengar doa hamba-Nya dan akan memberikan perlindungan kepada mereka yang ikhlas dan berada di jalan kebenaran.
Pesan tentang shibghah Allah yang termuat dalam ayat 138 menjadi penegasan tentang pentingnya identitas keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang muslim, karakter dan kepribadian harus senantiasa mencerminkan ajaran Islam. Ini berarti seorang muslim harus menunjukkan akhlak yang baik, berintegritas, adil, dan penuh kasih sayang dalam setiap interaksi sosial. Identitas Islam tidak hanya terlihat dalam ibadah ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun pekerjaan.
Dalam konteks modern, ajaran ini memberikan panduan bagi umat Islam untuk tetap menjaga keimanan dan identitasnya di tengah berbagai perubahan sosial, budaya, dan globalisasi. Umat Islam diingatkan untuk tetap bangga dengan identitasnya sebagai hamba Allah, sekaligus berkontribusi secara positif di masyarakat, menciptakan hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Dengan menerapkan ajaran-ajaran ini, umat Islam tidak hanya menjaga hubungan yang baik dengan Allah, tetapi juga membangun hubungan yang saling menghormati dan bermanfaat dengan sesama manusia. Pesan ini menjadi relevan dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, di mana umat Islam dituntut untuk menjadi teladan dalam menyebarkan kedamaian, keadilan, dan nilai-nilai kebaikan yang universal. Shibghah Allah, atau “celupan Allah,” harus menjadi identitas utama seorang muslim yang memengaruhi setiap aspek kehidupannya, sehingga menjadi cerminan keindahan Islam di mata dunia.
Dengan berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an, termasuk Surah Al-Baqarah ayat 136-138, umat Islam dapat menghadapi tantangan zaman dengan kepala tegak, hati yang penuh keyakinan, dan perilaku yang mencerminkan rahmat dan kasih sayang Allah. Hal ini akan membawa umat Islam kepada kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, dan memberikan dampak positif bagi dunia.
Kontributor
Anjas Alifah Bakry