Meraih Pahala Menghapus Dosa: Bagian 1
Dalam Islam, pahala dan dosa memiliki makna yang penting sebagai konsep etika dan moral dalam tindakan dan perilaku manusia.Thawab dalam bahasa Indonesia diartikan pahala.
Pahala adalah ganjaran atau balasan yang diberikan oleh Allah kepada orang yang melakukan amal perbuatan baik sesuai dengan ajaran Islam. Dasar Ajaran Islam konsep pahala mendasari prinsip bahwa setiap amal baik yang dilakukan oleh seorang muslim akan dihitung dan diimbangi oleh pahala yang akan diberikan oleh Allah.
Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW mengandung banyak ayat dan petunjuk mengenai pahala, menggambarkan bahwa Allah akan memberikan balasan yang adil dan besar kepada mereka yang berbuat baik. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar”.( QS.Al-Ahzab: 29). Adapun pintu-pintu kebaikan dan berbagai sarana yang bisa membawa kepada kebaikan diantaranya adalah:
Taubat
Taubat berakar dari kata taba yang berarti Kembali. Orang yang bertaubat kepada allah SWT adalah orang yang Kembali dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintahNya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala dibenci Allah menuju yang diridhaiNya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, kembali kepada Allah setelah meninggalkanNya dan Kembali taat setelah menentangNya.
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung “ (QS. An Nur: 31).
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang dan Dia membentangkan tangan-Nya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya“. (HR.Muslim).
Menahan marah
Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al-‘afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau yang berlebih, sebagai mana terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 219:
“Mereka (juga) bertanya kepadamu (tentang) apa yang mereka infakkan. Katakanlah, “(Yang diinfakkan adalah) kelebihan (dari apa yang diperlukan)” (QS. Al-Baqarah: 219).
Islam mengajarkan kepada kita untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah. Menurut M. Quraish Shihab, tidak ditemukan satu ayatpun yang menganjurkan untuk meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf.
Shidiq
Shidiq (ash-sidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib). Seorang muslim dituntut selalu berada dalam keadaan benar lahir batin; benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-hadits) dan benar perbuatan (shidq al-‘amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.
Rasulullah SAW memerintahkan setiap Muslim untuk selalu shidiq, karena sikap shidiq membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkannya ke sorga. Sebaliknya beliau melarang umatnya berbohong, karena kebohongan akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan berakhir di neraka.
“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke sorga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka.Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong” (HR. Muslim).
Sabar
Imam Al-Ghazali menjelaskan, seorang yang sabar akan tetap selamat di dunia dari kebingungan, kegelisahan, kesal, dan ratap tangis kesedihan. Juga selamat dari hukuman dan siksa di akhirat kelak. Sedang mereka yang justeru menunjukkan sikap lalai, gelisah dan tidak sabar, maka akan lenyap seluruh manfaat sabar itu darinya, dan ia akan menghadapi berbagai kerusakan dan kerugian.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Tiada lain disempurnakan pahala orang yang sabar dengan tanpa hitungan.” [Az-Zumar :10].
Nabi bersabda yang artinya:
“Orang beriman sungguh menakjubkan, Semua perkaranya baik baginya, dan hal tersebut tidak terjadi kecuali bagi seorang mu’min, jika dia mendapatkan kebaikan dia bersyukur karena itu baik baginya, dan jika dia mendapatkan keburukan dia bersabar, karena itu baik baginya“. (HR.Muslim).
Demikianlah, mudah-mudahan kita dapat selalu meningkatkan amal sholeh untuk memperoleh pahala dan ridho Allah SWT
Wallahu a’lam
Referensi
Al-Jami’, Abdurrahman, Pintu-Pintu Pahala dan Penghapus Dosa. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. 2021
Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPSI UAD, 1999
Penulis: Subagio