Pemimpin Dambaan Ummat

Al-qur’an menjelaskan bahwa Allah SWT adalah pemimpin orang-orang yang beriman:

“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang yang kufur, pelindung-pelindung mereka adalah tagut. Mereka (taghut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. “(QS. Al-Baqarah: 257)

Secara operasional kepemimpinan Allah SWT itu dilaksanakan oleh Rasulullah SAW dan sepeninggal beliau kepemimpinan itu dilaksanakan oleh orang-orang yang beriman. Hal itu dinyatakan di dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah)”. (QS Al-Maidah: 55)

Kriteria Pemimpin

Sebagai Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad SAW tidak bisa digantikan, tapi sebagai kepala negara, pemimpin, ulil amri tugas beliau dapat digantikan. Orang-orang yang dapat dipilih menggantikan beliau sebagai pemimpin minimal harus memenuhi empat kriteria sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Al-maidah ayat 55 diatas.

Pertama, Beriman kepada Allah SWT. Karena ulil amri  adalah penerus kepemimpinan Rasulullah SAW, sedangkan Rasulullah sendiri adalah pelaksana kepemimpinan Allah SWT, maka tentu saja yang pertama sekali harus dimiliki oleh penerus kepemimpinan beliau adalah keimanan. Tanpa keimanan kepada Allah dan RasulNya bagaimana mungkin dia dapat diharapkan memimpin umat menempuh jalan Allah di atas permukaan bumi ini.

Kedua, Mendirikan shalat. Seorang pemimpin yang mendirikan shalat diharapkan memiliki hubungan vertikal yang baik dengan Allah SWT. Diharapkan nilai-nilai kemuliaan dan kebaikan yang terdapat di dalam shalat dapat tercermin dalam kepemimpinannya.

Ketiga, Membayarkan zakat. Seorang pemimpin yang berzakat diharapkan selalu berusaha mensucikan hati dan hartanya. Dia tidak akan mencari dan menikmati harta dengan cara yang tidak halal (misalnya dengan korupsi, kolusi dan nepotisme). Dan lebih dari itu dia memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap kaum dhu’afa dan mustadh’afin. Dia akan menjadi pembela orang-orang yang lemah.

Keempat, Selalu tunduk patuh kepada Allah SWT. Pemimpin itu seharusnya orang-orang yang selalu ruku’. Ruku’ adalah simbol kepatuhan secara mutlak kepada Allah dan RasulNya yang secara konkret dimanifestasikan sengan menjadi seorang muslim yang kaafah (total), baik dari aspek aqidah, ibadah, akhlaq maupun mu’amalat. Aqidahnya benar, ibadahnya tertib dan sesuai tuntunan nabi, akhlaqnya terpuji dan mu’amalatnya tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

Pemimpin yang mencintai rakyatnya

Pemimpin dambaan umat hendaklah memiliki prinsip “haram menyakiti perasaan umat”. Jadi, semua kebijakan pemimpin adalah demi kepentingan umat, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun keluarga semata. Cintanya kepada umat sama besar cintanya kepada dirinya sendiri dan kepada keluarganya.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam sejarah Rasul, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ikut serta menyediakan segala kebutuhan hidup ahli shuffah. Kelompok ini dikenal kurang mampu secara ekonomi dan tidak memiliki tempat tinggal, termasuk di dalamnya para musafir yang kehabisan bekal. Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa jumlah ahli shuffah mencapai 400 orang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menempatkan mereka di sisi masjid dan mengajak para sahabat yang lain untuk menyisihkan sebagian harta mereka demi kelangsungan hidup para ahli shuffah. Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim)

Salah satu sikap pemimpin yang lebih mencintai umatnya dibandingkan yang lain, terjadi di masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Khalifah Umar dengan senang hati memanggul gandum untuk rakyatnya sebagai wujud kepedulian dan rasa tanggungjawabnya.

Ada pula Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang menginfakkan 700 onta lengkap dengan segala dagangan yang diangkut di atas onta-ontanya, kepada umat Islam dibandingkan harus diserahkan kepada para pedagang yang menawar dengan keuntungan sepuluh kali lipat.

Demikianlah kriteria dan karakteristik pemimpin dambaan umat, semoga Allah SWT menurunkan kepada kita pemimpin yang dapat membawa rakyatnya kepada jalan kebenaran dan mendapat ridho Allah SWT.

Wallahu a’lam

 

Referensi

Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPSI UAD, 1999

Rudi Hendrik. 2017. Karakter Pemimpin Dambaan Umat. Diakses 20 November 2024 dari https://minanews.net/karakter-pemimpin-dambaan-umat/

Penulis: Subagio