Meraih Pahala Menghapus Dosa: Bagian 2
Pada bagian pertama tulisan ini, sudah disampaikan beberapa amalan untuk meraih pahala, yakni taubat, menahan marah, shidiq, dan sabar. Berikut ini penulis sajikan bagian kedua tulisan dengan judul Meraih Pahala Menghapus Dosa: Bagian kedua, yakni:
Silaturrahim
Berkaitan dengan silaturrahmi Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka akan ada yang memanggilnya: Kebaikan buatmu dan perjalananmu, dan engkau telah menyediakan tempatmu di syurga” (Shahih Bukhari).
Dalam bahasa Indonesia sehari-hari, dikenal istilah silaturrahmi dengan pengertian yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada hubungan kasih sayang antara sesama karib kerabat, tetapi juga mencakup masyarakat yang lebih luas. Silaturrahmi berarti menghubungkan tali kasih sayang antara sesama anggota Masyarakat.
Bentuk-bentuk silaturrahmi dapat berupa kenal-mengenal, hormat menghormati, bertukar hadiah, jenguk menjenguk, bantu membantu dan bekerja sama menyelenggrakan walimahan dan lain-lain yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan persaudaraan. Selain meningkatkan hubungan persaudaraan antara sesama karib kerabat, silaturrahmi juga memberi manfaat lain yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Antara lain: mendapatkan Rahmat, nikmat dan ihsan dari Allah SWT, masuk sorga dan jauh dari neraka, lapang rejeki dan Panjang umur.
Ikhlas
Dalam bahasa populernya, Ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih; hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Tapi dari pengertian itu kemudian muncul pertanyaan, apakah mengerjakan sesuatu dengan imbalan tertentu (harta, pangkat, status dan lain-lain) berarti tidak ikhlas? Jika jawabannya “iya”. Apakah berarti guru, dosen, dokter, da’i dan profesi lain yang menerima imbalan dianggap tidak ikhlas? Apalagi pedagang yang memang sengaja mencari keuntungan tentu juga tidak akan pernah kita katakana ikhlas berdagang. Dalam menjawab pertanyaan tersebut, ada yang mencoba membagi amalan ke dalam dua klasifikasi. Pertama, amal dunia kedua, amal akhirat. Untuk yang duniawi boleh menerima imbalan materi, yang ukhrowi tidak boleh. Persoalan barupun muncul tatkala mendefinisikan mana yang duniawi dan mana yang ukhrowi. Oleh sebab itu persoalan Ikhlas itu tidak ditentukan oleh ada atau tiadaknya imbalan materi, tetapi ditentukan oleh niat, kualitas amal, dan pemanfaatan hasil. Atau dengan kata lain tidak setiap yang gratis itu otomatis Ikhlas, dan tidak pula yang dibayar itu tidak Ikhlas.
Menutup aib sesama
Islam melarang para pemeluknya menyebarkan aib orang lain tanpa adanya darurat. Menurut sebuah hadits, Allah SWT akan memberikan balasan dengan menutupi aib saat hari kiamat bagi orang yang menutup aib sesamanya.
Hal tersebut dijelaskan dalam Kitab Syarah Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi dengan bersandar pada riwayat Abu Hurairah RA. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak,” (HR. Muslim).
“Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib) nya pada hari kiamat,” (HR. Ahmad).
Sebaliknya, siapa yang mengumbar aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya hingga aib rumah tangganya.
“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya,” (HR. Ibnu Majah).
“Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat,” (HR. Ibnu Majah).
“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya,” (HR. Tirmidzi).
Amanah
“Pedagang yang jujur dan terpercaya (nanti di hari kiamat akan dikumpulkan) bersama para nabi dan orang-orang yang benar serta para syuhada” (Shahih Turmuzi).
“Penjual dan pembeli masih berada dalam keadan khiyar (boleh memilih antara jadi atau tidak) selama keduanya belum berpisah, jika keduanya jujur dan menjelaskan (hal yang sebenarnya) maka keduanya diberkahi dalam jual-belinya tersebut, dan jika keduanya berbohong dan menyembunyikan (hal yang sebenarnya) maka dihapuslah keberkahan jual beli keduanya” (HR.Bukhari).
Amanah berarti dipercaya, seakar dengan kata iman. Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya terdapat kaitan yang sangat erat sekali. Rasulullah SAW bersabda:
“ tidak sempurna iman seorang yang tidak Amanah, dan tidak sempurna agama orang yang tidak menunaikan janji.” (HR. Ahmad).
Amanah dalam pengertian yang sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam pengertian yang luas amanah mencakup banyak hal: Menyimpan rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga dirinya sendiri, menunaikan tugas-tugas yang dipikulkan Allah kepada umat manusia.
Adapun bentuk-bentuk Amanah yaitu: memelihara titipan dan mengembalikannya seperti semula, menjaga rahasia, tidak menyalahkan jabatan, menunaikan kewajiban dengan baik, memelihara semua nikmat yang diberikan Allah.
Semoga kita semua menjadi hamba Allah SWT yang selalu diberikan kemudahan dalam memupuk amal kebaikan dan menjalankan segala ketentuan dengan bimbinganNya. Aamiin
Wallahu a’lam
Referensi
Al-Jami’, Abdurrahman, Pintu-Pintu Pahala dan Penghapus Dosa. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. 2021
Ilyas, Yunahar. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta: LPSI UAD, 1999
Penulis: Subagio