Maulid Nabi: Momentum Cinta dan Syukur atas Kelahiran Rasulullah

Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Hari kelahiran Rasulullah bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan juga simbol lahirnya cahaya petunjuk yang menyinari kegelapan. Rasulullah hadir dengan risalah Islam yang membawa rahmat, mengangkat derajat manusia, dan membimbing umat menuju jalan kebaikan. Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi menjadi momentum penting untuk meneguhkan rasa cinta dan syukur atas anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia, yaitu diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.

Sejarah mencatat bahwa bahkan seorang musuh Islam seperti Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa di alam kuburnya setiap hari Senin karena ia bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad ﷺ dan memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, yang membawa kabar tersebut. Kisah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari ini menjadi isyarat bahwa kegembiraan atas kelahiran Rasulullah diakui oleh Allah. Maka, bagi umat Islam yang mencintai Nabi, mengekspresikan rasa syukur dengan memperingati Maulid tentu merupakan amal yang lebih mulia.

Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi tidak hanya diisi dengan shalawat, doa, dan pengajian, tetapi juga beragam tradisi lokal yang penuh makna. Semua tradisi itu mencerminkan betapa kuatnya kecintaan umat kepada Rasulullah, sekaligus menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat berpadu dengan nilai-nilai keislaman.

  1. Sekaten – Yogyakarta & Surakarta. Tradisi besar yang digelar di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Biasanya berlangsung selama seminggu dengan gamelan sekaten, pasar malam, dan puncaknya Grebeg Maulud, yaitu arak-arakan gunungan hasil bumi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
  2. Muludan – Cirebon (Jawa Barat). Disebut juga Panjang Jimat. Tradisi ini berisi pawai pusaka Keraton, doa bersama, serta penyajian makanan khas yang dinamakan nasi jimat.
  3. Bunga Lado – Padang Pariaman (Sumatera Barat). Masyarakat membuat hiasan dari janur, bunga, dan makanan yang disebut Bungo Lado. Hiasan itu diarak ke masjid atau surau, lalu dibagikan kepada jamaah setelah acara doa dan shalawat.
  4. Maudu Lompoa – Cikoang, Sulawesi Selatan. Tradisi besar diikuti ribuan orang. Warga membawa perahu berisi makanan, khususnya ketupat, untuk didoakan lalu dibagi-bagikan. Perahu dihias dan diarak, simbol kemakmuran dan keberkahan.
  5. Grebeg Maulud – Demak (Jawa Tengah). Mirip dengan tradisi di Keraton Yogyakarta, berupa pawai gunungan berisi hasil bumi. Tradisi ini berakar dari Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah. Nasi Tumpeng Maulid – Jawa Timur & Jawa Tengah. Di berbagai desa, masyarakat membuat tumpeng nasi kuning lengkap dengan lauk-pauk. Tumpeng dibawa ke masjid untuk doa bersama dan kemudian dimakan bersama-sama.
  6. Baayun Maulid – Kalimantan Selatan. Anak-anak diayun dalam ayunan khusus di masjid sambil dibacakan shalawat dan doa. Simbol agar anak mendapat berkah, kesehatan, dan menjadi generasi saleh.
  7. Endog-endogan – Banyuwangi (Jawa Timur). Masyarakat menghias telur rebus dengan kertas warna-warni, kemudian disusun dalam keranjang atau pohon hias. Telur melambangkan kehidupan baru, lalu dibagikan kepada anak-anak.
  8. Walima – Ternate (Maluku Utara). Masyarakat membuat kue tradisional, nasi jaha, dan hidangan lain untuk dibagikan. Hidangan ini biasanya disusun dalam wadah besar dan diarak ke masjid.
  9. Molod Nabi – Lombok (NTB). Tradisi masyarakat Sasak dengan membuat hidangan besar yang disebut hidangan rebana atau hidangan molod. Makanan dibawa ke masjid untuk doa, shalawat, lalu disantap bersama.

Berbagai tradisi Maulid Nabi ﷺ di berbagai daerah tentu memiliki makna tersendiri, yang perlu digaris bawahi adalah jika ingin memperingati Maulid, laksanakan dengan secukupnya dan tidak mengandung unsur yang dilarang syariat, seperti bid’ah, syirik atau bentuk pemujaan berlebihan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan umat Islam agar tidak melampaui batas dalam memuliakan dirinya. Beliau tidak menghendaki umatnya meniru orang Nasrani yang berlebihan dalam mengagungkan Nabi Isa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Umar ra., Nabi ﷺ bersabda:

عَنْ عُمَرَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُلاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. [رواه البخاري ومسلم]

 

“Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah. Maka sebutlah aku sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi penegasan penting bahwa mencintai Nabi Muhammad ﷺ adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, kecintaan itu tidak boleh berlebihan hingga menempatkan beliau di luar kedudukan sebenarnya. Rasulullah tetap harus dimuliakan sebagai hamba Allah sekaligus utusan-Nya.

Maulid Nabi adalah ajakan untuk meneladani akhlak mulia beliau. Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, jujur, amanah, dan peduli terhadap sesama. Momen Maulid seharusnya menjadi refleksi diri, sejauh mana kita telah berusaha mencontoh akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari: dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam menjalankan profesi dan tanggung jawab sosial.

Syukur atas kelahiran Rasulullah juga dapat diwujudkan melalui amal nyata: memperbanyak shalawat, mempererat silaturahmi, menebarkan kebaikan, dan membantu mereka yang membutuhkan. Dengan begitu, peringatan Maulid tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi energi yang menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata.

Akhirnya, Maulid Nabi Muhammad ﷺ adalah momentum untuk memperbaharui cinta dan kesetiaan kita kepada beliau. Kelahiran Nabi adalah hadiah terbesar bagi umat manusia, dan peringatannya adalah kesempatan untuk bersyukur serta memperdalam komitmen meneladani ajarannya. Semoga Maulid tahun ini benar-benar menjadi cahaya yang menerangi hati, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan semangat untuk terus menebarkan rahmat bagi semesta alam.

 

Referensi :

Farid, Edi Kurniawan. 2016. Substansi Perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. (Tinjauan Historis dan Tradisi di Indonesia). HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman, 2 (1), 25-31.

Jannah, Raudatul. 2021. Budaya Baayun Maulid Masyarakat Banjar: Interaksi Sosial untuk Nilai Kerohanian. Bihari Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, 4 (2), 90-108.

Yunus, Moch. 2019. Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia). HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman, 5 (2), 35-41.

https://muhammadiyah.or.id/2025/09/boleh-memperingati-maulid-asal-tidak-berlebihan/. (Diakses pada Kamis, 4 September 2025 pukul 14.50 WIB).

 

Kontributor: Nurshifa Fauziyah (Pustakawan Kampus 3 UAD)