Kuda, Kerajaan, dan Ketaatan: Makna Spiritual dalam Kehidupan Nabi Sulaiman

Allah subhanahu wata’ala mengutus para Nabi dengan menganugerahi keistimewaan yang berbeda – beda. Diantaranya, ada Nabi yang dikaruniai dengan wajah tampan, kecerdasan, sampai ada pula yang diberikan kekayaan yang berlimpah dan diberikan kemampuan untuk bisa berbicara dengan hewan dan jin seperti Nabi Sulaiman AS.

Nabi Sulaiman merupakan anak bungsu dari Nabi Daud AS dan ibunya dikenal sebagai Tasyayu’ bin Sura. Allah memberikan kepadanya kenabian dan kekuasaan (kerajaan) untuk menjadi pemimpin Bani Israil. Nabi Sulaiman menggantikan ayahnya sebagai pemimpin. Selama memegang peran kepemimpinannya, beliat menunjukkan kepribadian yang bijaksana dan selalu mengemban tanggung jawab terhadap segala aspek kehidpannya. Tindakan- tindakannya dan cara Nabi Sulaiman menggunakan harta serta kekuasaan yang dimilikinya mencerminkan kesungguhan dalam memikul tanggung jawabnya.

Kemegahan istana, harta yang melimpah, serta ribuan tentara baik dari golongan manusia, jin dan hewan, tidak membuat berkuranganya ketaatan Nabi Sulaiman kepada Allah. Kisah beliau dengan kuda – kudanya termaktub dalam Al Qur’an mengajarkan makna ketaatan dan pengorbanan demi Allah.

Allah berfirman dalam Surah Shad ayat 30 – 33:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚ نِعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ (٣٠) إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِۦ بِٱلْعَشِىِّ ٱلصَّٰفِنَٰتُ ٱلْجِيَادُ (٣١) فَقَالَ إِنِّىٓ أَحْبَبْتُ حُبَّ ٱلْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّى حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِٱلْحِجَابِ (٣٢) رُدُّوهَا عَلَىَّ ۖ فَطَفِقَ مَسْحًۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلْأَعْنَاقِ (٣٣)

Artinya:

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah). (Ingatlah) ketika pada suatu sore diperlihatkan kepadanya kuda-kuda yang jinak lagi tangkas berlari. Maka dia berkata: ‘Sesungguhnya aku menyukai kecintaan kepada kebaikan (kuda-kuda itu) karena mengingat Tuhanku,’ sampai (matahari) itu hilang dari pandangan. ‘Bawalah kembali kuda-kuda itu kepadaku,’ lalu dia mengusap kaki dan leher kuda-kuda itu.”

Kisah ini berawal ketika Nabi Sulaiman sedang mengagumi kuda – kuda pilihan yang dimilikinya. Kuda – kuda itu adalah simbol kekuatan militer sekaligus keindahan. Namun, dalam kekaguman tersebut, beliau menyadari bahwa waktunya tersita hingga terlewat mengingat Allah pada saat yangseharusnya. Sebagai bentuk penebusan dan pengendalian hati, beliau memerintahkan agar kuda – kuda itu dikembalikan, kemudian beliau mengusap kaki dan lehernya.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah nabi Sulaiman dengan kuda – kudanya antara lain:

1.  Ketaatan di atas segalanya

Artinya bahwa kecintaan pada dunia tidak boleh mengalahkan ketaatan kepada Allah. Hal ini termaktub dalam QS. Al An’am: 162 yang artinya “Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

2. Cepat kembali kepada Allah

Artinya bahwa kita seorang mukmim yang baik segera ingat dan kembali kepada Allah setelah melakukan kesalahan dan kekhilafan. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS. Ali Imran: 135 yang artinya “Dan orang – orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa – dosa mereka..”

3. Mengendalikan hati dari pesona dunia

Artinya dunia ini hanyalah sementara, bukan tujuan, akhiratlah yang menjadi tujuan akhir kita. Firman Allah dalam QS. Al Hadid: 20 yang artinya “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba – lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”

4. Kepemimpinan yang berorientasi akhirat

Artinya bahwa pemimpin sejati menempatkan Allah sebagai pusat dari semua keputusan dan kebijakan. Ini sesuai dalam firman Allah QS. Asy Syuara’: 84 – 85 yang artinya “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang – orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang – orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.”

5. Pengorbanan demi iman

Artinya kadang menginggalkan sesuatu yang sangat dicintai adalah wujud pengorbanan tertinggi demi menjaga iman. Hal ini tertuang dalam firman Allah QS. Ali Imron: 92 yang artinya “Kamu sekali – kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”

6. Kesadaran waktu dalam ibadah

Artinya menjaga waktu – waktu mengingat Allah harus menjadi prioritas Hal ini tertuang dalam firman Allah QS. An Nisa: 103 artinya “Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang – orang yang beriman.”

7. Harta dan kekuasaan hanya sarana

Artinya semua nikmat dunia adalah amanah yang harus digunakan di jalan Allah. Ini termaktub dalam firman Allah QS. Al Kahfi: 46 artinya” Harta dan anak – anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmua …”

Kisah Nabi Sulaiman ini menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun kerajaan yang kita miliki, hanya ketaatan yang akan membuatnya bermakna. Dunia adalah sarana, bukan tujuan. Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa kemegahan sejati adalah ketika hati mampu memilih Allah di atas segalanya.

Referensi:

  1. Al Qur’an
  2. https://www.liputan6.com/citizen6/read/5465502/nabi-paling-kaya-yang-dijelaskan-dalam-al-quran-punya-istana-megah-dan-pasukan-jin?page=8
  3. https://quranhadits.com/quran/38-sad/sad-ayat-33/#google_vignette

Kontributor:

Zulfa Erlin Muflihah, SIP. (Pustakawan Perpustakaan UAD Kampus 3)