Ibadah Qurban Membangun Kepribadian Muttaqin

Hari raya idul adha adalah peristiwa tauhid. Di dalamnya terdapat syariat  dan perintah yang dinisbahkan kepada perjalanan nubuwah nabi Ibrahim as beserta putranya Ismail as. Selain ibadah haji, pada bulan ini kita disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban, baik berupa kambing, domba, sapi, kerbau maupun onta. Syariat ibadah qurban diceritakan oleh Allah swt dalam QS. Ash-shaffat ayat 102;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Sebagai sebuah peristiwa tauhid, hewan qurban yang kita sembelih sesungguhnya tidak saja mengajarkan kepada kita tentang arti keikhlasan untuk berkorban, tidak hanya mengajarkan makna berbagi, kerelaan mengeluarkan sebagian harta untuk membeli hewan qurban kemudian disembelih. Ibadah qurban tidak cukup hanya dimaknai sebagai prosesi tahunan dengan menyembelih binatang ternak, kemudian pada hari tersebut melimpah penuh daging untuk dikonsumsi. Ibadah qurban harus dimaknai sebagai manivestasi dan pengamalan dari ketaqwaan kita, ketaatan kita didalam menjalankan perintah Allah swt., karena bukan seberapa besar kambing ataupun sapi yang mampu kita sembelih, akan tetapi ketaqwaannya lah yang akan Allah nilai. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Hajj : 37;

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Esensi Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban yang akan kita laksanakan sesaat nanti, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Allah swt melalui peristiwa nabi Ibrahim as bersama putranya Ismail as adalah wujud ketaatan haqiqi yang ditunjukkan oleh kedua insan mulia ini. Nabi Ibrahim as beserta putranya Ismail as adalah contoh figur manusia beriman yang memiliki kataatan kepada Allah melibihi apapun, kecintaanya kepada Allah melibihi segala sesuatu dari apa yang mereka cintai di dunia ini. Ketaatan mereka dalam menjalankan perintah Allah mampu mengalahkan dorongan hawa nafsu atas nikmat duniawi yang mereka miliki. Bagaimana tidak, Ismail as anak satu-satunya, yang telah begitu lama ia nanti kehadirannya, dengan keikhlasan dan ketaatan karena Allah swt nabi Ibrahim as rela menyembelihnya, begitu pula putranya Ismail, dengan penuh keikhlasan meminta ayahnya agar menjalankan perintah Allah tersebut. Inilah tauhid, sebuah keyakinan yang kuat atas dzat Allah tanpa keraguan sedikitpun.

Seperti halnya manusia pada umumnya, nabi Ibrahim as oleh Allah juga diberikan fitrah dan dorongan hawa nafsu terhadap kenikamatan dunia (hubbu al-syahawat al-dunyawiyah). Adapun Ismail yang oleh Allah diperintahkan untuk disembelih adalah simbol dari kenikmatan duniawi yang dimiliki oleh Ibrahim pada saat itu. Bagi Ibrahim, Ismail adalah harta yang sangat berharga yang ia miliki. Fitrah manusia yang memiliki kecenderungan dan kecintaan terhadap kehidupan diduniawi digambarkan oleh Allah swt dalam QS. Ali Imran: 14;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Jika pada saat itu nabi Ibrahim as mengorbankan putranya Ismail, maka Ismail menjadi simbol, yakni simbol dari kecintaan manusia terhadap kehidupan duniawi (hubbu al-syahawat al-dunyawiyah). Maka apa-apa yang kita cintai di dunia ini itulah Isma’il-isma’il masa kini. Harta kekayaan kita kumpul-kumpulkan itulah Isma’il kita. Anak Istri dan keluarga yang kita sayangi itulah Ismail kita. Pekerjaan, jabatan dan kedudukan yang kita miliki itulah Ismail kita. Pertanyaannya, lebih besar mana ketaatan kita kepada Allah daripada Ismail-ismail masakini yang kita miliki?. Sejauh mana, rasa cinta kita mampu mengalahkan rasa cinta kita kepada apapun yang cintai di dunia ini?. Tentang hal ini Allahtelah memberikan peringatan kepada kita sebagaimana firmannya dalam QS. At-Taubah: 24;

 قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ‎﴿٢٤﴾

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Pada ayat ini telah cukup jelas bagaimana Allah memberikan peringatan kepada kita semua, agar jangan sampai kehidupan ini ini membuat kita tertipu, mampu mengalahkan kecintaan dan ketaatan kita kepada Allah swt. jika kehidupan dunia ini melalaikan kita, maka Allah akan dating dengan membawa peringatan kepada kita. Karena itulah, mari momentum idul Adha ini, kita jadikan sebagai sarana muhasabah, dalam rangka meningkatkan kecintaan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. (nk)

Kontributor:

Nanik Arkiyah, M.IP. (Pustakawan Kampus 4 UAD)