Optimisme Nabi Zakaria a.s

Terdapat banyak hadis yang bermanfaat sebagai pelajaran untuk memotivasi diri, salah satunya terdapat hadis tentang optimis menjalani hidup. Optimis dalam Islam adalah keyakinan kuat dan berprasangka baik (husnudzan) kepada Allah SWT bahwa selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Sikap ini melarang umat Islam berputus asa dari rahmat Allah, serta mendorong keseimbangan antara doa, usaha nyata (ikhtiar), dan penyerahan diri (tawakal).

Sikap optimis harus ditanamkan dalam hati manakala suatu saat menghadapi badai masalah, ia akan tegar dan terus bersemangat mencari solusi penyelesaian masalah. Tidak mudah putus asa dan yakin pasti ada hikmah besar di balik semua takdir Allah. Islam mengajarkan umatnya untuk bangkit menyongsong hari esok dengan obsesi baru, harapan dan semangat membara agar hidupnya lebih baik, amalnya lebih shalih, imannya bertambah kuat, serta hatinya dipenuhi buhul cinta kepada Allah, tidak menyesali peristiwa masa lalu yang mungkin menumbuhkan kesedihan mendalam.

Hidup ini hakikatnya adalah belajar, beramal dan bersabar serta mengiringi semua yang kita lakukan dengan penuh optimisme, Allah akan memberi kita yang terbaik sesuai takdirnya. Yakinlah setelah kesulitan ada kemudahan. Allah Ta’ala berfirman:

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah : 5-6)

Prasangka baik kepada Allah

Husnudzan billah (berbaik sangka kepada Allah) adalah modal utama dalam membentuk sikap optimis dalam kehidupan. Sikap itu termasuk amalan hati yang paling agung dan kewajiban iman yang mulia. Sesunggguhnya berbaik sangka kepada Allah memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama yang mulia ini. Allah tidaklah membuat kecewa hamba yang berbaik sangka kepada-Nya. Karena Allah tidak akan mengecewakan harapan orang yang berharap dan tidak menganggap amalan orang yang beramal. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Hud:115)

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan agungnya berbaik sangka kepada Allah dan dampak bagi pelakunya berupa kedudukan yang terpuji dan pengaruh yang besar serta buah manis keberkahan di dunia dan akhirat. Betapa agung kedudukannya, karena ini merupakan ibadah dan ketaatan yang mulia lagi utama. Semakin kuat berbaik sangka kepada Allah, maka akan semakin menghasilkan buah yang manis bagi pelakunya dan memberikan dampak keberkahan serta pujian baik di dunia maupun di  akhirat.

Belajar dari Nabi Zakaria a.s

Al-Qur‟an memberikan perumpamaan yang sangat banyak tentang optimisme terhadap masa depan. Di antaranya adalah tentang kisah Nabi Zakaria a.s sebagai seorang manusia yang mengharapkan keturunan bagi meneruskan perjuangan menyelamatkan umat dengan berpegang pada syariat Taurat, sedangkan usianya telah lanjut dan beliau mempunyai seorang istri tua yang diketahui mandul. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Maryam 4-7

 Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah melemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.

Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu,

yang akan mewarisiku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.”

(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.

Keinginannya untuk memperoleh seorang anak yang keluar dari sulbinya sendiri semakin kuat. Bukan hanya semata-mata ingin memperoleh anak, tetapi cita-cita yang jauh lebih agung dan luhur, ialah agar anak yang dicita-citakan itu dapat meneruskan perjuangan suci menghadapi suasana baru yang akan ditimbulkan oleh Maryam mengingat dirinya sendiri sekarang sudah tua dan sudah dekat kepada akhir hayatnya. Nabi Zakaria lalu berdoa kepada Allah tentang cita-citanya. Allah Swt. pun mengabulkan doanya, dengan kuasa Allah istrinya yang sudah lanjut usia mulai hamil dan tidak lama kemudian lahirlah seorang putra yang diberi nama Yahya.

Optimis adalah sikap, perilaku, dan karakter yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Ketika optimis tertanam dalam hati dan pikiran, seorang muslim dapat menghadapi berbagai masalah atau ujian dengan tegar. Selalu percaya kepada Allah SWT, bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan

Ada banyak hikmah bersikap optimis yang bisa didapatkan dari kisah nabi Zakaria a.s.  Hikmah yang paling utama adalah semakin dicintai oleh Allah SWT. Dalam menjalani kehidupan terasa lebih mudah karena selalu berprasangka baik kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam

Kontributor: Subagio