Adab Berteman: Berkata Baik atau Diam
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Menurut dari Sejak lahir, manusia membutuhkan orang lain untuk mendukung kehidupannya, mulai dari keluarga, teman, hingga masyarakat luas. Dalam proses interaksi sosial tersebut, komunikasi memegang peran yang sangat penting. Komunikasi bukan hanya sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga mencerminkan kepribadian dan akhlak seseorang.
Bagi seorang mahasiswa, pertemanan bukan hanya tentang berbagi pengalaman dan kebersamaan, melainkan juga membangun jaringan yang dapat mendukung perkembangan akademik, sosial, maupun spiritual. Namun, pertemanan bisa menjadi baik atau buruk tergantung pada cara kita berinteraksi, khususnya melalui ucapan. Ucapan yang baik mampu mendatangkan kasih sayang dan memperkuat ikatan persaudaraan, sedangkan ucapan yang buruk dapat memicu konflik, perpecahan, bahkan permusuhan.
Oleh karena itu, Islam memberikan pedoman yang jelas mengenai adab berteman, salah satunya dengan prinsip “berkata baik atau diam” sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW. Prinsip ini relevan untuk semua kalangan, termasuk mahasiswa, yang sedang dalam fase pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai moral.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis tentang Berkata Baik atau Diam
Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup umat Islam mengajarkan pentingnya berbicara dengan baik. Dalam QS. Al-Isra [17]: 53, Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.’”
Ayat ini menunjukkan bahwa perkataan yang baik dapat mencegah perpecahan, sedangkan perkataan buruk menjadi pintu masuk setan untuk menimbulkan konflik di antara manusia.
Selain itu, Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis sahih:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengaitkan ucapan dengan keimanan. Artinya, kualitas keimanan seseorang dapat tercermin dari bagaimana ia menjaga lisannya.
Urgensi Menjaga Lisan dalam Berteman
Lisan merupakan salah satu anggota tubuh yang paling sering digunakan manusia. Walaupun kecil, dampaknya sangat besar terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dalam konteks pertemanan, lisan bisa menjadi penguat hubungan, tetapi juga bisa merusaknya.
Beberapa urgensi menjaga lisan dalam berteman antara lain:
- Menjaga kehormatan diri dan orang lain – ucapan yang baik akan membuat seseorang dihormati, sementara ucapan buruk bisa merendahkan harga diri orang lain.
- Mencegah fitnah dan perpecahan – mahasiswa sering terlibat dalam organisasi, diskusi, dan pergaulan luas. Menjaga lisan dapat menghindarkan mereka dari konflik akibat kesalahpahaman.
- Mencerminkan kepribadian dan akhlak – perkataan adalah cermin hati. Ucapan yang santun menunjukkan akhlak yang mulia.
- Membina ukhuwah islami – dengan ucapan yang baik, pertemanan menjadi sarana saling mendukung dalam kebaikan.
Nilai-Nilai dalam Pertemanan yang Baik
Berteman bukan sekadar soal kebersamaan, tetapi juga membangun nilai-nilai yang bermanfaat. Prinsip “berkata baik atau diam” dapat diaplikasikan dalam beberapa nilai berikut:
1. Kejujuran. Ucapan yang baik adalah ucapan yang benar dan jujur. Dalam pertemanan, kejujuran membangun kepercayaan dan menghindari kecurigaan.
2. Kesantunan. Mahasiswa harus mampu menyampaikan pendapat dengan bahasa yang santun. Kritik dan saran pun bisa dikemas dengan cara yang baik agar tidak menyakiti hati.
3. Menghindari ghibah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudara kita yang tidak ia sukai. Hal ini, merusak ukhuwah dan bertentangan dengan adab pertemanan.
4. Saling menasehati dalam kebaikan
Berkata baik juga berarti menyampaikan nasehat yang membangun. Mahasiswa dapat saling mengingatkan dalam hal akademik maupun ibadah.
5. Mengendalikan
Ketika marah, lebih baik diam daripada mengucapkan kata – kata kasar yang dapat melukai perasaan teman.
Relevansi Prinsip Ini bagi Mahasiswa
Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa yang memiliki peran penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, pergaulan yang sehat sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan diri. Dalam lingkungan kampus, mahasiswa sering terlibat dalam diskusi, organisasi, dan berbagai kegiatan sosial. Tanpa adab menjaga ucapan, konflik mudah terjadi.
Dengan menerapkan prinsip berkata baik atau diam, mahasiswa akan memperoleh manfaat berikut:
- Menciptakan lingkungan akademik yang harmonis dengan saling menghargai pendapat.
- Meningkatkan solidaritas antar teman karena saling menjaga perasaan.
- Membentuk karakter kepemimpinan yang bijaksana dalam berbicara dan mengambil keputusan.
- Menghindari budaya negatif seperti perundungan (bullying), ujaran kebencian atau penyebaran hoaks.
Penutup
Adab berteman WS168 dengan prinsip berkata baik atau diam adalah ajaran Islam yang relevan sepanjang masa. Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW telah menekankan bahwa ucapan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial. Bagi mahasiswa, menjaga lisan adalah bagian dari pembentukan karakter, sekaligus wujud pengamalan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berkata baik, pertemanan menjadi sarana dakwah, motivasi, dan dukungan. Sementara dengan diam, seseorang menjaga diri dari dosa dan menjaga keharmonisan pergaulan. Prinsip sederhana ini, bila diterapkan secara konsisten, akan membentuk generasi berakhlak mulia yang mampu membawa manfaat bagi sesama dan menjadi teladan di masyarakat.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.
- Muslim, Imam. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1991.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005.
- Shihab, M. Quraish. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996.
- Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991.
Kontributor : Zulfa Erlin Muhlihah (Pustakawan UAD Kampus 3)
