Hattā Zurtumul-Maqābir

Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Takatsur ayat 1–2:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Surah At-Takatsur merupakan salah satu surah yang mengingatkan manusia tentang bahaya terlena oleh kehidupan dunia. Manusia sering disibukkan oleh perlombaan dalam memperbanyak harta, kedudukan, keturunan, prestasi, dan berbagai bentuk kebanggaan duniawi. Kesibukan tersebut terkadang membuat manusia lupa terhadap tujuan hidup yang sebenarnya.

Menariknya, ketika menggambarkan perjalanan manusia menuju kematian, Al-Qur’an menggunakan sebuah ungkapan yang sangat indah dan penuh makna: (ḥattā zurtumul-maqābir). Secara sederhana, ungkapan tersebut berarti “sampai kamu mengunjungi kuburan.”

Keindahan Pemilihan Kata dalam Al-Qur’an

Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah ketepatan pemilihan katanya. Setiap kata yang digunakan memiliki konteks dan makna yang mendalam. Pemilihan kata zurtum dalam ayat ini bukan sekadar ungkapan bahasa, tetapi memberikan gambaran tentang hakikat perjalanan manusia.

Jika manusia hanya melihat kuburan sebagai akhir, mungkin ia akan menganggap kematian sebagai berhentinya seluruh perjalanan. Namun, Al-Qur’an menggunakan kata “mengunjungi” untuk memberikan isyarat bahwa kuburan bukan tempat menetap selamanya.

Ada tahapan kehidupan setelahnya: kebangkitan, perhitungan amal, dan kehidupan akhirat. Inilah salah satu bentuk keindahan bahasa Al-Qur’an. Satu kata dapat membawa pesan yang luas dan menggugah kesadaran manusia.

Mengapa Al-Qur’an Menggunakan Kata “Mengunjungi”?

Jika kita memperhatikan ayat tersebut, Al-Qur’an sebenarnya dapat menggunakan berbagai ungkapan untuk menggambarkan keadaan manusia setelah meninggal. Misalnya, dapat digunakan kata yang bermakna dikuburkan, menempati kuburan, atau masuk ke dalam kuburan. Namun, Al-Qur’an justru memilih kata zurtum, yang berarti berkunjung atau mengunjungi.

Pemilihan kata ini mengandung pesan yang sangat dalam. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang mengatakan, “Saya berkunjung ke rumah saudara,” maka yang dimaksud bukanlah menetap untuk selamanya. Berkunjung berarti datang untuk sementara waktu, kemudian meninggalkan tempat tersebut. Seseorang yang berkunjung tidak menjadikan tempat yang dikunjunginya sebagai tempat tinggal abadi.

Demikian pula dengan kuburan, Al-Qur’an menggambarkan kuburan sebagai tempat persinggahan manusia, bukan tempat tinggal yang kekal. Manusia datang ke dunia, menjalani kehidupan, kemudian meninggal dan memasuki alam kubur. Akan tetapi, perjalanan manusia tidak berhenti di sana. Setelah kehidupan di alam kubur, akan datang hari kebangkitan dan kemudian kehidupan akhirat.

Karena itu, penggunaan kata “zurtum” – kalian mengunjungi memberikan gambaran bahwa keberadaan manusia di alam kubur bukanlah akhir dari perjalanan. Kuburan hanyalah salah satu tahapan dalam perjalanan panjang manusia menuju kehidupan yang kekal.

Dunia Bukan Tempat Tinggal Selamanya

Pesan ini menjadi semakin kuat apabila kita menghubungkannya dengan ayat sebelumnya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” Manusia sering menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengejar sesuatu yang bersifat sementara. Kita bekerja keras mengumpulkan harta, mengejar jabatan, membangun nama baik, memperbanyak kepemilikan, bahkan terkadang membandingkan diri dengan orang lain.

Tidak ada yang salah dengan memiliki harta, kedudukan, keluarga, atau prestasi. Namun, semuanya dapat menjadi masalah ketika hal tersebut membuat manusia lalai terhadap Allah dan melupakan kehidupan akhirat. Surah At-Takatsur seakan mengingatkan bahwa semua perlombaan duniawi tersebut pada akhirnya akan berhadapan dengan satu kenyataan: kematian.

Sebanyak apa pun harta yang dimiliki, setinggi apa pun kedudukan seseorang, sebanyak apa pun pengikut dan penghargaan yang diperoleh, pada akhirnya manusia akan meninggalkan semuanya. Harta tidak ikut masuk ke dalam kuburan sebagai milik pribadi. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan berlalu. Yang menemani manusia adalah amal yang telah dilakukan selama hidupnya. Karena itu, ungkapan “zurtumul-maqābir” mengandung sebuah peringatan agar manusia tidak menganggap dunia sebagai tempat tinggal yang abadi.

Kuburan Sebagai Tempat Persinggahan

Bayangkan seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Ia berhenti di sebuah tempat untuk beristirahat. Tempat tersebut penting karena menjadi bagian dari perjalanannya, tetapi bukan tujuan akhirnya. Demikian pula kehidupan manusia. Dunia adalah tempat manusia menjalani kehidupan dan mengumpulkan bekal. Setelah itu manusia memasuki alam kubur. Kemudian akan datang kehidupan akhirat yang kekal.

Dengan memahami kuburan sebagai tempat persinggahan, cara pandang kita terhadap kehidupan akan berubah. Kita tidak akan mudah terperangkap dalam perlombaan duniawi. Kita akan lebih berhati-hati menggunakan waktu, harta, ilmu, dan kesempatan yang Allah berikan. Kita juga akan menyadari bahwa kehidupan ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk bermegah-megahan.

Pelajaran bagi Kehidupan Kita

Surah At-Takatsur ayat 1–2 pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang orang yang telah meninggal. Ayat ini justru berbicara kepada kita yang masih hidup. Selama masih hidup, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita masih dapat memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama, menggunakan harta di jalan kebaikan, memperbanyak ibadah, serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Kematian mengingatkan kita bahwa waktu tidak akan berhenti menunggu siapa pun. Karena itu, jangan sampai kehidupan dunia membuat kita lupa terhadap tujuan akhir. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung apa yang kita miliki, tetapi lupa menghitung amal yang telah kita persiapkan. Pada akhirnya, kita semua akan “mengunjungi” kuburan. Yang menjadi persoalan bukanlah apakah kita akan sampai di sana, tetapi bekal apa yang kita bawa ketika perjalanan itu tiba.

Surah At-Takatsur mengajarkan kepada kita bahwa dunia hanyalah persinggahan. Kuburan pun bukan tempat tinggal terakhir. Kehidupan manusia akan berlanjut menuju akhirat, tempat manusia mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan hidupnya. Maka, selagi masih diberikan kesempatan hidup, marilah kita menjadikan dunia sebagai tempat menanam kebaikan, bukan sekadar tempat bermegah-megahan. Sebab, suatu saat nanti kita akan meninggalkan semuanya dan melanjutkan perjalanan menuju kehidupan yang sebenarnya.

Kontributor: Subagio