Kisah Masyhur Dua Imam Besar: Rahasia di Balik Jaminan Rezeki yang Tak Tertukar
Rezeki tak akan tertukar merupakan prinsip keimanan terhadap ketetapan Allah SWT (qada dan qadar). Allah SWT adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) yang telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Allah SWT menjamin rezeki baik tempat,waktu jumlah dan tempat dengan kadar yang berbeda-beda. Rezeki merupakan suatu ketetapan yang sudah diatur oleh Allah SWT, bahkan sebelum kita lahir di dunia ini. Menengok kembali diskusi yang masyhur, Sebagai contoh, diskusi antara dua ulama besar antara guru dan murid, Imam Malik (711 M-795 M) dan Imam Syafii (767 M-820 M). Diceritakan Imam Syafi’i berdiskusi dengan gurunya, Imam Malik, tentang masalah rezeki dengan sudut pandang berbeda. Imam Malik bin Anas merupakan guru Imam Syafii, Imam Malik berpandangan rejeki setiap makhluk hidup sudah dijamin oleh Allah SWT. Seseorang yang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya akan dicukupkan rezekinya.
Landasan Imam Malik adalah hadis sahih dari Rasulullah ﷺ:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Mendengar penjelasan Imam Malik, Imam Syafii memberikan pandangan yang berbeda dengan argumen hadis yang sama bahwasanya rezeki dicari melalui usaha (kerja keras), sebagaimana burung harus terbang mencari makan sebagai bentuk usaha (kerja keras ), bukan berdiam diri atau bermalas-malasan disarang,“Wahai Guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan memperoleh rezeki dari Allah?”.
Beberapa hari kemudian, saat musim panen tiba, Imam Syafi’i menyaksikan rombongan kafilah petani sedang memetik dan mengangkut keranjang-keranjang anggur yang besar. Mengingat perdebatannya dengan Imam Malik, Imam Syafi’i memutuskan dengan tulus membantu para petani memetik dan mengangkut keranjang anggur hingga selesai. Sebagai tanda terima kasih larena sangat terbantu kemudian Imam Syafi’i dihadiahi beberapa ikat anggur yang segar dan mani
Setelah mendapatkan beberapa ikat anggur, Imam Syafi’i berkunjung ke Imam Malik dengan penuh gembira. Gembira bukan karena mendapatkan beberapa ikat anggur, melainkan merasa pandangannya tentang rezeki telah terbukti kalau bekerja (ikhtiar) akan mendapatkan anggur (rezeki). Imam Syafi’i berkata,“Andai saya tidak keluar dari rumah dan tidak bekerja, tentu anggur ini tidak akan sampai ke tangan saya.”Mendengar hal tersebut, Imam Malik tersenyum. Ia minta izin mencicipi anggur yang dibawa muridnya.“Hari ini saya tidak keluar rumah, hanya mengajar saja. Karena udara cukup panas saya membayangkan makan anggur enak pelepas dahaga.Untungnya engkau membawakan anggur untukku,”ujarnya tertawa. Imam Syafi’i pun tertawa, mendengar jawaban penuh hikmah dari sang guru, Imam Syafi’i mengerti apa yang dimaksud gurunya Imam Malik. Kedua Imam Besar itu tertawa sambil menikmati beberapa ikat anggur. lalu keduanya tertawa bersama dengan penuh kehangatan, Demikianlah, akhlak kalangan alim ulama dalam menyikapi perbedaan (ikhtilaf). Masing-masing mengutamakan adab, dan saling menghargai, saling mendengarkan tanpa ada keinginan untuk membenarkan diri sendiri dalam menyikapi rezeki satu sama lain.
Referensi:
Dr. Muhammad Anshar Akil, S. M. (2025, October 19). Retrieved from uin-alauddin.ac.id: https://www.uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/diskusi-imam-syafii-dan-imam-malik-soal-rezeki
Mandiri, Y. (2022, 10 12). Rezeki Sudah Diatur dan Dijamin Allah SWT, Jangan Khawatir. Retrieved from YM BLOG: https://yatimmandiri.org/blog/muamalah/rezeki-sudah-diatur/
RIZQA, H. (2020, 09 20). REPUBLIKA. Retrieved from Literasi Umat: https://www.republika.id/posts/10501/dua-alim-menyikapi-rezeki
Kontributor:
Uvan Susani, S. Pd. I (Pustakawan Penyelia)
Universitas Ahmad Dahlan
