Memaknai Gerhana Bulan ( antara mitos dan tauhid )

Gerhana Bulan secara ilmu sains

Secara ilmu sains, gerhana bulan adalah fenomena ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi sebagian atau seluruh permukaan bulan. Cahaya matahari yang biasanya memantul dari bulan terhalang oleh bumi. Warna kemerahan saat terjadi gerhana bulan karena disebabkan oleh atmosfer bumi menyaring cahaya biru sehingga cahaya yang mencapai bulan saat gerhana total akan tampak kemerahan, sehingga sering disebut sebagai “Bulan Darah”. Para astronom atau ilmuwan di seluruh dunia telah menyaksikan fenomena Bulan Darah yang memukau adalah sebuah fenomena yang terjadi ketika bulan melewati bayangan bumi dengan rona merah tua . Pemandangan memukau ini dapat disaksikan secara keseluruhan di beberapa belahan negara di seluruh dunia.

Mitos Gerhana Bulan

Pada masa awal Islam, sebagian orang memaknai fenomena alam ini dengan beragam tafsir. Ada yang menyebutnya pertanda kematian Ada pula yang memahaminya sebagai pertanda terjadinya sebua peristiwa. sebelum Islam hadir menerangi peradaban masyarakat jazirah Arab, penduduk setempat percaya bahwa peristiwa gerhana, baik bulan atau matahari berkaitan erat dengan kematian tokoh pembesar. Bahkan, dalam satu riwayat ada momen di mana satu-satunya anak Nabi Muhammad SAW dari selain Khadijah, bernama Ibrahim, putra Nabi dari Mariah al-Qibtiyyah, meninggal tepat bersamaan dengan peristiwa gerhana matahari. “Pada masa Rasulullah SAW pernah terjadi gerhana matahari, yaitu di hari meninggalnya putra beliau, Ibrahim. Orang-orang lalu berkata, “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim!”

Tidak jauh dari lingkungan kita Masyarakat jawa masih ada yang mempercayai gerhana bulan adalah sebuah peristiwa konon bulan menghilang karena di makan oleh Batara kala dan sebagai pertanda buruk kehidupan manusia. Guna mengusir Batara kala yang berwujud raksasa, masyarakat menabuh lumping atau lesung dan para perempuan hamil juga akan mengolesi perut dengan abu sisa pembakaran. Tujuannya agar bayi yang dikandung selamat dari Batara kala. Dan mitos Jawa lain saat gerhana, wanita hamil diharuskan bersembunyi di bawah tempat tidur atau meja saat gerhana untuk menghindari nasib sial yang bakal menimpa si bayi. Jika tidak bersembunyi, dikhawatirkan, bayi yang dikandung akan lahir dalam kondisi tidak sempurna

Gerhana dalam pandangan Islam

Dikutip dari laman muhammadiyah Islam datang dengan pendekatan yang sama sekali berbeda. Nabi Muhammad Saw menegaskan bahwa gerhana bukan tanda kematian atau kesialan seseorang, melainkan ayat kauniyyah. Gerhana adalah tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Al-Qur’an menyebutkan:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Fushshilat [41]: 37).

Ayat ini menegaskan bahwa matahari dan bulan hanyalah makhluk ciptaan Allah, bukan dewa atau pengendali nasib. Fenomena langit, termasuk gerhana, seharusnya mengantarkan manusia pada kesadaran tauhid.

Nabi SAW pun menegaskan bahwa gerhana tidak ada sangkut pautnya dengan kematian seorang manusia, bahkan putra beliau sendiri. Sikap ini bukan hanya teladan tauhid, tetapi juga bentuk pembelajaran pada umat islam dan masyarakat umum supaya tidak terjebak pada mitos atau takhayul. Seperti dengan yang di sabdakan Nabi Muhammad :

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, salatlah, dan bersedekahlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hikmah Gerhana Bulan

Saat peristiwa alam yang menakjubkan ini terjadi, Apa yang membedakan Islam dengan pandangan non-Islam adalah arah penafsiran. Bagi Islam, gerhana bukan pertanda kesialan atau keberuntungan, melainkan kesempatan merenung dan mempertebal iman. Dari fenomena ini mengajarkan:

  1. Tunduk pada kebesaran Allah, bukan pada mitos kosmik.
  2. Mengaitkan fenomena alam dengan ibadah, bukan dengan kepanikan.
  3. Menanamkan rasionalitas tauhid, membebaskan manusia dari belenggu takhayul.
  4. Mengembangkan ilmu pengetahuan.

Saat peristiwa gerhana sesuai tuntutan Nabi SAW seorang muslim disunnahkan mengerjakan sholat gerhana. Untuk gerhana Bulan, sholatnya bernama Khusuf.  Dan juga juga disunnahkan untuk banyak berdoa, bertakbir, dan bersedekah saat gerhana Bulan. Dasarnya adalah hadits:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

Artinya: “Jika kalian melihat itu (gerhana), maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, sholat, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari dari Aisyah)

Referensi :

Sumber Artikel berjudul ” Khusuf al-Qamar: Memaknai Gerhana Bulan dalam Pandangan dan Syariat Islam “, selengkapnya dengan link: https://priangantimurnews.pikiran-rakyat.com/humaniora/pr-1229630347/khusuf-al-qamar-memaknai-gerhana-bulan-dalam-pandangan-dan-syariat-islamDari sekian

Baca artikel detikjateng, “3 Mitos Gerhana Bulan Menurut Kepercayaan Jawa dan Pandangan Islam” selengkapnya https://www.detik.com/jateng/budaya/d-8100934/3-mitos-gerhana-bulan-menurut-kepercayaan-jawa-dan-pandangan-islam.

Sumber dari https://muhammadiyah.or.id/2025/09/gerhana-antara-mitos-dunia-dan-pandangan-islam/

 

Kontributor: Tunggal Pribadi, S. S.I (Pustakawan Kampus 4 UAD)