Mencari Simpul Ketenangan Hidup

Dalam hidup kita pernah mengalami sebuah rasa yang tidak tau deskripsinya, sepertinya keadaan baik-baik saja namun nyatanya ada hal yang tidak bisa diurai kenapanya. Alih-alih healing untuk menghilangkan rasa yang bergemuruh namun nyatanya rasa itu tetap menggelora di jiwa. Apakah ini?? Usut-punya usut, ternyata kunci hidup supaya tenang dan damai itu simpel dan murah, tak perlu harus upgrade aplikasi. Yaps kuncinya ada dihati, fikiran dan perbuatan yang selaras. Mari kita urai satu-persatu apa saja yang berpotensi menjadi penyebabnya:

 

Bersyukur

Kita sudah sering mendengar dan membaca tentang makna bersyukur hanya saja mungkin kurang memaknai. Bersyukur itu hal simpel tapi sulit dilakukan. Apalagi di jaman sosial media yang acap kali memporak-porandakan proses bersyukur lantaran melihat postingan teman. Satu hal yang perlu diingat, orang posting di sosial media itu sudah pasti yang baik dan indah, behind the scene-nya mereka keep sendiri lah ya. Kebanyakan dari mereka memang hanya ingin berbagi kebahagiaan saja, nah kitanya aja mungkin yang baper yang berujung membandingkan keberuntungan mereka dengan nasib apes kita. Bukankah setiap orang itu mempunyai air matanya sendiri-sendiri ? Bukankah setiap orang memiliki porsi pilu masing-masing? Bukankah setiap orang mempunyai jatah kebahagiaan dengan jalan masing-masing ? dan bukankah setiap orang memiliki keruwetannya sendiri-sendiri ?.

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

 

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Luqman: 7)

 

Terdapat beberapa keutamaan yang dapat diperoleh jika kita mampu bersyukur. Menukil buku Dahsyatnya Sabar, Syukur, Ikhlas Muhammad SAW karya Amirulloh Syarbini dan Jumari Haryadi, berikut sejumlah keutamaan yang dapat diraih dari bersyukur:

  • Bersyukur dapat melipatgandakan nikmat
  • Bersyukur sebagai bukti keimanan
  • Bersyukur menjadi sumber kecukupan
  • Memperoleh kesembuhan dan kebahagiaan, sebab syukur menjadi induk pikiran positif berasal
  • Bersyukur mendatangkan rezeki

 

Jalani hidup semampunya

Di jaman hedon ini yang serba mudah dan praktis, menggiring kita menjadi orang yang konsumtif. Disadari ataupun tidak hal tersebut sering membuat kita lupa diri. Membeli hal-hal yang tidak diperlukan yang berujung mubazir alias membuang uang secara percuma. Kalau-pun itu uangmu maka monggo saja sih ya, sekalipun perbuatan mubazir adalah hal yang disukai syaitan lho ya. Hal yang sangat salah itu manakala kita ingin menuntaskan lapar mata kita dengan cara menghalalkan segala cara. Yaps mengambil apa yang bukan haknya hanya karena :

  • Ingin dipandang sama dengan yang lain
  • Ingin tidak diremehkan orang lain
  • Ingin terlihat satu frekuensi dengan sebayanya
  • Tidak ingin terlihat “sengsara”.

 

Bisa jadi hal ini yang melatarbelakangi hidup tidak tenang dikarenakan otak dipaksa berfikir keras mengatur strategi supaya dapat memenuhi kebutuhan ego beli ini dan itu yang kita sendiri tidak butuh-butuh amat alias fomo fear of missing out. Terjebak gengsi itu berat, maka segeralah move up dan hiduplah kembali secara wajar. Jika ingin tenang dan stabil dalam menjalani hidup maka berjalanlah di garismu, bukan garisnya orang yang kamu inginkan. “Pakailah sepatu yang ukurannya biasa kamu pakai supaya jalannya nyaman, bukan yang pura-pura nyaman”.

 

Kenali tujuan hidupmu

Ketika kita sudah terlanjur terjebak dalam habit konsumtif namun dengan cara yang salah, maka segeralah bertaubat. Kembalilah pada tujuan hidupmu untuk apa? Ketika  penilaian manusia yang dikejar maka sampai kiamat-pun tidak akan pernah puas atas rejeki yang diberikan untukmu. Akan selalu ada rasa kurang dan kurang. Kita terlalu repot menyibukkan diri terhadap penilaian mata orang lain hingga lupa hakikat dari tujuan hidup untuk apamempersiapkan bekal menuju keabadian.

 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (QS. Az-Zariyat:56)

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(Al-Baqarah: 30)

 

Hal ini bermakna bahwa ketika kita mengabdi kepada Tuhan dan menjaga ciptaan-Nya, maka kita bakal menarik kemurahan Tuhan kepada diri kita sendiri. Kita menerima rahmat Allah. Itulah alasan mengapa Tuhan menciptakan kita, untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Allah menguji kita untuk melihat apakah kita akan mematuhi-Nya? Akankah kita menjaga pada ciptaan-Nya? Dengan memahami tujuan ini, kita pada hakikatnya siap membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, dan ini adalah alasan yang sangat bagus untuk menjadi Muslim. Menjalani hidup yang terarah akan lebih menentramkan jiwa, tidak memaksakan hal yang di luar batas kemampuan, tidak mengahalalkan hal yang sudah jelas hukumnya haram, serta hidup berorientasi dengan peningkatan kualitas diri.

 

Di saat dunia riuh dengan adu pencapaian, persaingan kekayaan, dan haus pengakuan, maka memilih hidup sederhana adalah solusi bijak yang perlu dicoba. Hidup sederhana bagi sebagian orang bukanlah pilihan yang menarik. Resiko hidup sederhana mungkin tidak dipandang berkilau layaknya swaroski maupun berlian intan permata. Hidup sederhana adalah sebuah pilihan bagi orang yang sudah mengenali dirinya. Hidup sederhana dipilih sebagai proses pendamaian jiwa raga. Sederhana bukan berarti tinggal di rumah dengan penerangan minim, dinding penuh dengan lumut, pakaian bau, aroma tubuh menyengat lantaran menghemat membeli deodoran maupun makan hanya sekali dalam sehari. Hidup sederhana adalah hidup sewajarnya yang disesuaikan dengan kemampuannya. Tidak memaksakan untuk terlihat berkilau di hadapan orang lain. Bukan pula hidup yang jauh dari peradaban dan perkembangan zaman. Jalan hidup yang dipilih untuk mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan lahir batin.

 

Referensi:

[1] https://www.setapakkehidupan.com/2021/03/kunci-ketenangan-hidup.html?m=0

[2] https://tafsirweb.com/4053-surat-ibrahim-ayat-7.html

[3] https://tafsirweb.com/7496-surat-luqman-ayat-12.html

[4] https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7232738/kumpulan-ayat-al-quran-tentang-bersyukur-dan-keutamaannya.

[5] https://tafsirweb.com/9952-surat-az-zariyat-ayat-56.html

[6] https://tafsirweb.com/290-surat-al-baqarah-ayat-30.html

[7] https://www.suaramuhammadiyah.id/read/islam-dan-tujuan-hidup

 

Kontributor:
Ana Pujiastuti, M. A. (Pustakawan Kampus 4 UAD)