Meneladani Imam Syafi’i dalam Menuntut Ilmu

Pendahuluan

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, sebagaimana sabda Rasulullah

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah, no. 224).

Ilmu adalah cahaya yang mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam sejarah Islam, para ulama besar memberikan teladan nyata dalam kesungguhan mencari ilmu, salah satunya adalah Imam Syafi’i, seorang ulama mujtahid yang lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina.

Beliau dikenal dengan keluasan ilmunya, kecerdasan luar biasa, serta akhlak yang mulia. Salah satu kisah inspiratif beliau adalah pertemuannya dengan sekelompok perampok yang justru memberikan pelajaran mendalam tentang pentingnya menyandarkan ilmu di hati, bukan sekadar pada catatan.

Pembahasan

1. Semangat Imam Syafi’i dalam Menuntut Ilmu

Imam Syafi’i sejak kecil telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu. Beliau menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia sepuluh tahun. Perjalanan ilmunya ditempuh dari satu kota ke kota lain, berguru kepada ulama besar di Makkah, Madinah, Baghdad, hingga Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu tidak bisa diraih dengan cara instan, melainkan membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan ketekunan.

2. Kisah Imam Syafi’I bertemu perampok

Dalam sebuah perjalanan menuntut ilmu, Imam Syafi’i pernah dicegat oleh sekelompok perampok. Semua harta benda dan catatan kitab beliau dirampas. Imam Syafi’i dengan penuh keberanian berkata kepada kepala perampok:

“Ambillah seluruh hartaku, tetapi tolong kembalikan catatan ilmuku, sebab catatan itu sangat berharga bagiku.”

Sang kepala perampok lalu bertanya dengan nada mencemooh:

“Bagaimana mungkin engkau menuntut ilmu bila engkau hanya bergantung pada catatanmu? Seharusnya ilmu itu tertanam di dalam dadamu, bukan hanya tertulis di atas kertas.”

Perkataan sederhana itu justru menjadi cambuk bagi Imam Syafi’i. Sejak saat itu, beliau bertekad untuk menghafal semua ilmu yang dipelajarinya. Maka, lahirlah Imam Syafi’i sebagai seorang ulama besar dengan hafalan yang kuat, hujjah yang tajam, dan karya yang mendunia.

3. Pelajaran yang Dapat Diteladani

Dari kisah tersebut, terdapat beberapa teladan berharga bagi generasi muslim, khususnya anak muda masa kini:

  • Kesungguhan dalam menuntut ilmu. Imam Syafi’i rela menempuh perjalanan jauh dan penuh rintangan demi meraih ilmu. Hal ini menjadi contoh bahwa ilmu harus dicari dengan pengorbanan dan ketekunan.
  • Pentingnya menghafal dan memahami ilmu. Perkataan perampok memberi isyarat bahwa ilmu sejati bukan hanya tertulis, tetapi terpatri di dalam hati dan diamalkan dalam kehidupan sehari – hari.
  • Rendah hati menerima nasehat dari siapapun. Imam Syafi’I tidak meremehkan nasehat seorang perampok. Justru beliau mengambil hikmah dari perkataan tersebut dan menjadikannya sebagai motivasi untuk lebih bersungguh – sungguh.
  • Ilmu sebagai bekal hidup. Ilmu yang benar akan menjadi cahaya dalam kegelapan, bekal untuk kehidupan dunia dam penuntun menuju keselamatan akhirat.

Penutup

Kisah Imam Syafi’i dengan perampok merupakan salah satu bukti bahwa perjalanan menuntut ilmu penuh dengan ujian. Namun, kesungguhan dan kerendahan hati beliau dalam menerima hikmah menjadikannya ulama besar yang ilmunya tetap abadi hingga kini. Bagi generasi Muslim, kisah ini mengajarkan bahwa ilmu tidak cukup hanya ditulis, tetapi harus dihafal, dipahami, dan diamalkan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Maka, marilah kita meneladani Imam Syafi’i dalam semangat mencari ilmu, menjaganya dalam hati, serta mengamalkannya untuk kebaikan umat.

Daftar Pustaka

  • Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.
  • Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Beirut: Dar al-Fikr, 1995.
  • Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat. Kairo: Dar al-Hadits, 2006.
  • Al-Suyuthi, Jalaluddin. Tabaqat al-Huffazh. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996.
  • Ramadhan, Muhammad. Biografi Imam Syafi’i: Perjalanan Hidup Sang Mujtahid Mutlak. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015.

Kontributor: Zulfa Erlin Muflihah (Pustakawan UAD Kampus 3)

Sumber: https://lensakuliner.com/