Menjadi Pendengar yang Baik, Jalan Menuju Surga

Hubungan baik antara manusia memberikan dampak terhadap keharmonisan dalam keseharian. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari bantuan orang lain dan tidak bisa tanpa interaksi dengan orang lain. Demi terwujudnya hal tersebut dibutuhkan saling tolong menolong diantara mereka, rasa empati, dan welas asih. Seperti ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah:

 

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.”

Amazed dengan cerita kawan di sore itu, dimana ia memiliki keberuntungan di pihak pertemanan. Ternyata masih ada ya teman yang begitu baiknya menawarkan diri dan siap menerima segala macam curhat. Ketika ditanya, kenapa kamu sebaik itu merelakan waktumu? Ia hanya menjawab dengan kalimat sederhana. “Ya, karena kamu pantas mendapatkannya. Kamu pantas diperlakukan sebaik itu, karena kamu orang baik. Mungkin aku tidak dapat memberikan solusi terbaik, namun aku ada untukmu, siap menampung segala permasalahan yang sedang kamu rasakan”, pungkasnya.

Temannya yang lain juga memperlakukan hal yang sama, dengan segenap panca indera yang dimilikinya ia selalu berusaha ada ketika dirinya dibutuhkan. Sikap legowo dan gentlement-nya terlihat ketika temannya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia tidak ingin temannya larut dalam masalah dan selalu memberikan nalar positif yang bisa temannya ambil. Prinsip yang ia pegang yakni tidak ingin melupakan dan meninggalkan teman seperjuangannya.

Jika ditarik ke ranah agama Islam, menjadi pendengar yang baik adalah hal yang mulia, diantaranya adalah dapat meringankan beban orang lain. Kebayang tidak, betapa mulianya seseorang ketika mampu menyelamatkan orang lain dari keterpurukan, menyelamatkan mental seseorang dari tindakan yang diluar nalar. Islam mengajarkan kepada kita para umatnya untuk selalu berbuat baik, tolong-menolong dalam kebaikan, dan mencegah hal dari kemungkaran.

 

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ۝٢

Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS. Al Maidah ayat 2)

“Orang yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang Anda bawa kepada Muslim yang lain.” (HR. At-Tabrani).

 

Allah tidak akan membiarkan kita terpuruk, semua ada best learning-nya. Hubungan awet itu kuncinya cuma satu yakni menghargai. Ya, menghargai sekecil apapun yang orang lain berikan, begitu juga sebaliknya. Jika hanya ingin didengar tapi enggan mendengarkan balik ya seperti  nonton pidato atau orasi. So, menjaga hubungan baik itu seharusnya kedua belah pihak, jika hanya searah yang ada hanya menyakitkan. Effort-nya hanya kayak angin, berlalu dan hanya berasa sesaat.

 

Referensi:

(https://kemenag.go.id/islam/khutbah-jumat-mari-mudahkan-urusan-orang-lain-dqzQ6)

https://www.setapakkehidupan.com/2025/02/temanmu-hanyalah-manusia-biasa.html

https://quran.com/id/jamuan-hidangan-makanan/2-3

https://www.rumahzakat.org/bahagia-dengan-tolong-menolong/

https://www.setapakkehidupan.com/2025/03/hargai-temenmu-sebelum-ia-memilih-pergi.html

 

Kontributor: Ana Pujiastuti, M. A. (Pustakawan Kampus 4 UAD)