Menjaga Lisan dalam Islam

Bulan Ramadhan sudah datang, bulan yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Banyak hal yang harus kita persiapakan untuk dapat melaksankan ibadah puasa di bulan suci ini .Diantaranya dengan menjaga fisik, perilaku yang positif, pembiasaan ibadah rutin yang harus lebih baik.

Salah satu pembiasaan baik tersebut adalah dengan menjaga lisan kita. Karena sering tanpa sadar kita melakukan hal hal yang kurang baik seperti berkata kasar, atau mungkin membicarakan keburukan orang lain (ghibah)

Lisan adalah anugerah luar biasa yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan lisan, manusia dapat menyampaikan ilmu, menghibur, memotivasi, dan menegakkan kebenaran. Namun, lisan juga bisa menjadi penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam dosa besar jika tidak dijaga.

Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan selalu dicatat .

 

Dalam Al Quran surat. Qaf: 18, Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

 

Ayat ini mengandung makna mendalam: setiap kata yang terucap, baik sengaja maupun tidak, akan dicatat. Ucapan yang ringan di lisan bisa sangat berat di timbangan amal. Karena itu, seorang Muslim harus memiliki kesadaran spiritual dalam setiap komunikasi.

Lebih lanjut, Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ ۝٧٠

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim menyebutkan

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Hadis ini menekankan kaidah emas dalam berbicara: jika perkataan kita  tidak membawa manfaat, lebih baik diam. Sikap ini menunjukkan kedewasaan iman dan pengendalian diri. Diam bukan berarti kita lemah akan tetapi Upaya pengendalian diri agar kita tidak terjerumus pada hal hal yang dapat menambah dosa kita.

 

Lisan adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjadi sarana amal jariyah—mengajarkan ilmu, menasihati kebaikan, atau memberi semangat. Di sisi lain, ia juga bisa menyakiti, memfitnah, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang.

Contoh nyata dari pahala lisan:

  • Dzikir dan membaca Al-Qur’an
  • Memberikan nasihat dengan kasih sayang
  • Menyebarkan ilmu yang bermanfaat

Contoh nyata dari dosa lisan:

  • Ghibah (menggunjing)
  • Namimah (adu domba)
  • Dusta dan sumpah palsu

Tips Menjaga Lisan Sehari-Hari

  1. Berpikir sebelum berbicara: Apakah kata-kata yang akan kita ucapkan ini benar? Apakah Perlu diucapkan? Apakah membawa kebaikan atau sebaliknya?
  2. Perbanyak diam: Diam bukan tanda kelemahan, tapi kebijaksanaan, dengan diam lisan kita akan terjaga dan insya Allah selamat.
  3. Kawal emosi: Jangan berbicara saat marah karena dalam kondisi marah manusia sering kehilangan kendali yang padsa akhirnya akan menjadi penyesalan  .
  4. Jaga adab komunikasi digital: Sama seperti lisan, tulisan pun akan dimintai pertanggungjawaban, kesantunan dalam bermedia social juga hal yang harus kita perhatikan , banyak contoh yang dapat kita lihat karena sindirian atau tulisan di media sisial kita terjerumaus dalam hal hal yang dapat merusak pahala dan menambah dosa.
  5. Dekatkan diri pada Al-Qur’an dan hadis: Supaya ucapan kita senantiasa terarah selalu berdoa dan minta petunjuk agar lisan kita terjaga dan selamat didunia maupun akhirat.

Menjaga lisan bukan hanya soal menghindari dosa, tetapi juga mencerminkan kualitas hati dan keimanan. Semakin bersih hati seseorang, semakin berhati-hati ia dalam berbicara. Lisan yang dijaga akan menuntun pada kehidupan yang lebih damai, baik di dunia maupun akhirat.

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada hari kiamat selain akhlak yang mulia.”
(HR. Abu Dawud)

Mari kita rawat lisan kita sebagaimana kita menjaga hati dan amal. Gunakan untuk menebar manfaat, bukan mudarat. Karena dari lisanlah, pahala bisa mengalir atau dosa bisa menumpuk.

Semoga di bulan romadhan ini bisa lebih baik dari Ramadhan sebelumnya.

Kontributor:
M. Firmanudin (Pustakawan Kampus 5 UAD)