Orang Munafik
Salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya adalah kemunafikan. Munafik adalah seseorang yang secara lahir menampakkan keislaman, namun dalam hatinya menyimpan kekafiran atau kebencian terhadap ajaran Islam. Sifat ini sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, dalam Al-Qur’an disebutkan betapa bahayanya kemunafikan :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu akan ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah di neraka.” (QS. An-Nisa: 145)
Dalam Surah At-Taubah ayat 67, Allah SWT menggambarkan perilaku kaum munafik yang justru cenderung mengajak kepada kemungkaran dan mencegah perbuatan baik. Mereka juga digambarkan sebagai orang-orang yang kikir, dengan ungkapan menggenggam tangannya sebagai simbol keengganan untuk berbagi.
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu sama lain adalah sejenis; mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)
Istilah amar mungkar berarti menyeru atau mengajak orang lain melakukan perbuatan tercela, yaitu perbuatan yang mengandung dosa, hal-hal syubhat, makruh, haram, maksiat, kerusakan, dan kemudaratan. Sementara itu, nahi ma’ruf berarti mencegah atau menghalangi orang lain dari melakukan perbuatan baik atau yang bernilai ma’ruf, yaitu amal yang mengandung kebaikan, pahala, keberkahan, manfaat, kehalalan, keuntungan, serta keselamatan.
Kaum munafik cenderung merasa senang ketika orang-orang di sekeliling mereka terjerumus dalam berbagai bentuk keburukan. Mereka lebih nyaman berada di tengah masyarakat yang rusak dan diliputi kebodohan. Kehadiran kebaikan dalam lingkungan mereka justru menimbulkan rasa tidak suka, bahkan kegelisahan. Apabila ada seseorang yang secara tulus melakukan kebaikan, kaum munafik akan segera berupaya untuk melemahkan semangat dan menggagalkan niat baik tersebut. Mereka termasuk golongan fasik, yaitu orang-orang yang sengaja mencampuradukkan antara kebaikan dan keburukan, serta memutarbalikkan nilai kebenaran. Tidak hanya itu, mereka pun aktif menghalangi siapa pun yang ingin menempuh jalan kebaikan.
Di zaman sekarang, gejala kemunafikan tampak semakin nyata dan terbuka. Mereka yang memiliki sifat ini tak lagi merasa sungkan atau malu dalam menampakkan perilakunya, bahkan sering melempar tanggung jawab kepada orang lain tanpa rasa bersalah. Beberapa contoh perilaku munafik antara lain:
- Manipulatif dan Penuh Tipu Daya
Individu dengan sifat ini gemar memutarbalikkan fakta demi meraih kepentingan pribadi. Karakteristik ini sangat identik dengan perilaku setan yang penuh tipu muslihat.
- Bermuka Dua
Mereka bersikap berbeda-beda tergantung dengan siapa mereka berinteraksi. Perkataan dan sikapnya berubah-ubah demi membentuk citra baik di hadapan orang lain, seolah-olah memiliki kepribadian ganda.
- Riya’
Yaitu kebiasaan melakukan kebaikan hanya saat disaksikan orang lain, semata-mata demi mendapatkan pujian dan pengakuan, bukan karena niat tulus karena Allah.
- Penuh Kedengkian
Kaum munafik seringkali merasa senang melihat penderitaan orang lain. Kedengkian mereka mirip dengan sifat setan yang selalu membenci kebahagiaan orang lain.
- Melakukan Kerusakan
Mereka terlibat dalam tindakan yang merusak dan mencemari lingkungan, baik secara fisik, sosial, maupun moral, tanpa memedulikan dampak buruknya terhadap masyarakat.
- Berbangga Diri dalam Dosa
Ada pula yang merasa bangga atas perbuatan maksiat seperti berbohong, mengingkari janji, berkhianat, mencuri, dan sebagainya. Lebih dari itu, mereka bahkan menceritakan dosa-dosa tersebut kepada orang lain seakan-akan itu adalah suatu pencapaian. Perilaku seperti ini menunjukkan betapa jauhnya mereka dari nilai-nilai kebaikan dan kesadaran moral.
Sifat-sifat ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang mengajarkan kejujuran, ketulusan, dan akhlak mulia. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk waspada terhadap perilaku semacam ini, baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitar, serta berupaya menjaga hati dan amal agar terhindar dari sifat-sifat kemunafikan yang dapat merusak iman dan merugikan kehidupan sosial.
Untuk menjauhkan diri dari sifat kemunafikan, hal utama yang harus dijaga adalah keikhlasan hati dalam setiap amal perbuatan. Selain itu, kejujuran dalam ucapan dan konsistensi antara perkataan dan tindakan menjadi prinsip penting yang harus dijunjung tinggi. Evaluasi diri secara berkala juga diperlukan agar dapat menyadari kekeliruan dan memperbaikinya. Menjauhkan diri dari sifat riya’ (pamer amal) serta berusaha menepati setiap janji yang diucapkan merupakan bagian dari usaha nyata dalam menjaga kemurnian iman dan akhlak seorang Muslim.
Referensi :
- Ciri Orang Munafiq dalam Surah At-Taubah ayat 67. https://www.suaramuhammadiyah.id/read/ciri-orang-munafiq-dalam-surah-at-taubah-ayat-67
Kontributor:
Dian Yunihasti, S. IP (Pustakawan Fakultas Kedokteran, UAD Kampus 4)
