PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH BERKEMAJUAN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI WAL-‘ASHR

Nanik Arkiyah 
Perpustakaan UAD, nanik.arkiyah@staff.uad.ac.id

Pendahuluan
Pendidikan Muhammadiyah merupakan pilar utama dalam membangun masyarakat Islam yang berkemajuan. Sejak awal berdirinya, KH. Ahmad Dahlan menempatkan pendidikan sebagai instrumen dakwah dan tajdid (pembaruan) dalam membentuk kesadaran keagamaan, sosial, dan kemanusiaan. Melalui jaringan sekolah dan perguruan tinggi, Muhammadiyah berperan besar dalam mencerdaskan bangsa serta menanamkan nilai-nilai Islam berkemajuan. Namun, perubahan sosial dan teknologi yang cepat menuntut pendidikan Muhammadiyah untuk terus beradaptasi dan memperkuat landasan teologisnya agar tetap relevan di masa depan.
Asal-usul teologi Wal-‘Ashr berakar dari cara Kiai Ahmad Dahlan memahami dan menghidupkan makna surat Al-‘Ashr dalam gerakan dakwah Muhammadiyah. Kiai Dahlan tidak sekadar menafsirkan ayat-ayat tersebut secara teoritis, melainkan menjadikannya sebagai dasar praksis pembentukan karakter umat. Diceritakan bahwa beliau sering mengajarkan surat Al-‘Ashr berulang-ulang kepada para muridnya dalam pengajian yang kemudian dikenal sebagai Pengajian Wal-Ashr di Kauman. Melalui pengajian ini, Kiai Dahlan menekankan pentingnya kesadaran terhadap waktu, iman yang berbuah amal saleh, serta kebersamaan dalam menegakkan kebenaran dan kesabaran. Dari sinilah lahir teologi sosial Muhammadiyah yang menuntun umat Islam untuk beragama secara dinamis, menghubungkan keimanan dengan kerja nyata, tanggung jawab sosial, dan perjuangan kemanusiaan.
Salah satu dasar teologis yang dapat dijadikan pijakan adalah teologi Wal-‘Ashr. Surat Al-‘Ashr menekankan tiga nilai utama, yaitu kesadaran terhadap waktu, pentingnya amal saleh, serta kebersamaan dalam memperjuangkan kebenaran dan kesabaran. Nilai-nilai tersebut memiliki makna mendalam dan relevan dalam pengelolaan amau usaha pendidikan, khususnya dalam mengarahkan visi pendidikan Muhammadiyah agar tidak sekadar mengikuti arus zaman, tetapi juga menjadi pembentuk peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak.

Teologi Wal-‘Ashr dan Relevansinya dalam Pendidikan
Surat Al-‘Ashr terdiri dari tiga ayat singkat, tetapi mengandung pesan teologis yang luas. Allah berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Ayat ini menegaskan bahwa waktu merupakan simbol nilai kehidupan, iman dan amal saleh menjadi ukuran kualitas manusia, serta kebersamaan dalam kebenaran dan kesabaran adalah kunci keselamatan. Pendidikan Muhammadiyah perlu menginternalisasi nilai-nilai ini dalam seluruh proses pembelajaran agar melahirkan manusia beriman, cerdas, dan berkepribadian sosial yang kuat.
Pendidikan yang berlandaskan Wal-‘Ashr harus berorientasi pada masa depan dan menjawab tantangan zamannya. Lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak cukup berperan sebagai tempat transfer ilmu, melainkan juga pusat pembentukan karakter dan moralitas. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.

Kesadaran Waktu: Adaptasi terhadap Perubahan Zaman
Ayat pertama, “Demi masa,” mengajarkan pentingnya kesadaran terhadap waktu sebagai amanah. Dalam konteks pendidikan, hal ini berarti kesanggupan membaca perubahan dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Dunia pendidikan kini menghadapi tantangan revolusi digital, perubahan paradigma belajar, serta munculnya generasi baru dengan karakter yang berbeda. Oleh karena itu, sekolah Muhammadiyah perlu memperkuat literasi teknologi, pembelajaran digital, dan kecerdasan buatan tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Kesadaran waktu menuntut keseimbangan antara inovasi dan spiritualitas. Pendidikan Muhammadiyah harus memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas dakwah dan memperkuat pembelajaran, sekaligus memastikan bahwa kemajuan tersebut tidak menjauhkan peserta didik dari akhlak mulia. Dengan memadukan kemajuan ilmu dan nilai-nilai iman, Muhammadiyah dapat menjaga relevansi pendidikan di era modern.

Iman dan Amal Saleh sebagai Jiwa Pendidikan
Ayat kedua menegaskan bahwa hanya orang-orang yang beriman dan beramal saleh yang selamat dari kerugian. Prinsip ini sejalan dengan visi pendidikan Muhammadiyah yang menekankan integrasi antara ilmu, iman, dan amal. Pendidikan tidak cukup menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus menumbuhkan kepekaan sosial dan semangat berbuat baik. Iman menjadi dasar moralitas, sedangkan amal saleh merupakan bentuk nyata dari iman yang hidup dalam masyarakat.
Amal saleh dalam konteks modern dapat diwujudkan melalui inovasi ilmiah, pengabdian sosial, dan kontribusi terhadap pembangunan bangsa. Pendidikan Muhammadiyah harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya ahli di bidangnya, tetapi juga memiliki etos kerja, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap nilai kemanusiaan. Dengan demikian, amal saleh menjadi motor penggerak bagi pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan.

Kebersamaan dalam Kebenaran dan Kesabaran
Ayat ketiga dari surat Al-‘Ashr menekankan pentingnya kebersamaan dalam memperjuangkan kebenaran dan kesabaran. Pendidikan Muhammadiyah harus dibangun di atas kolaborasi antara guru, peserta didik, orang tua, masyarakat dan persyarikatan. Nilai kebenaran harus menjadi prinsip utama dalam proses belajar, mulai dari integritas akademik hingga kejujuran moral. Tanpa nilai-nilai tersebut, pendidikan berisiko kehilangan arah dan makna spiritualnya.
Kesabaran dalam pendidikan berarti ketekunan dalam menghadapi tantangan. Dunia pendidikan sering berhadapan dengan perubahan kebijakan, keterbatasan sumber daya, serta pergeseran nilai di kalangan generasi muda. Dengan semangat tawāshau bil-haqq dan tawāshau bis-shabr, Muhammadiyah harus konsisten memperjuangkan pendidikan yang berkeadaban dan berkepribadian Islam. Kebersamaan menjadi kekuatan kolektif untuk menjaga mutu dan keberlanjutan pendidikan Muhammadiyah di tengah arus globalisasi.

Penutup
Teologi Wal-‘Ashr memberikan arah moral dan spiritual bagi pengembangan pendidikan Muhammadiyah di masa depan. Nilai kesadaran waktu, iman dan amal saleh, serta kebersamaan dalam kebenaran dan kesabaran menjadi fondasi utama dalam membentuk sistem pendidikan yang berkemajuan. Pendidikan Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada tataran kognitif, tetapi harus menjadi gerakan peradaban yang melahirkan manusia beriman, cerdas, dan berakhlak mulia.
Dengan semangat Wal-‘Ashr, pendidikan Muhammadiyah diharapkan mampu menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan, namun tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman. Tantangan masa depan mungkin semakin kompleks, tetapi dengan kekuatan iman, amal, dan kebersamaan, pendidikan Muhammadiyah akan terus menjadi cahaya yang mencerahkan peradaban manusia. (nk)

Daftar Pustaka
Abdullah, M. A. (2017). Islam berkemajuan: Dialektika teks dan konteks dalam pandangan Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Anwar, S. (2015). Manhaj gerakan Muhammadiyah: Ideologi, khittah, dan langkah. Yogyakarta: Gramasurya.
Darban, A. A. (2010). Sejarah dan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Haidar, N. (2018). Teologi wal-‘ashr dan etos gerakan Muhammadiyah. Jakarta: Kompas Penerbit Buku.
Jainuri, A. (2016). Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan. Surabaya: LP3M Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Latif, Y. (2012). Genealogi intelegensia Muslim Indonesia. Jakarta: Kencana.
Mu’ti, A. (2015). Pendidikan Islam berkemajuan: Transformasi sekolah, madrasah, dan pesantren. Jakarta: Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah.
Nashir, H. (2014). Memahami ideologi Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2011). Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Muhammadiyah. Yogyakarta: PP Muhammadiyah.
Syamsuddin, D. (2005). Islam berkemajuan untuk pencerahan bangsa. Jakarta: Pusat Dialog dan Kerjasama Peradaban.
Yusra, N. (2012). Muhammadiyah dan pendidikan: Filosofi, cita-cita, dan realitas. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Kontributor:

Nanik Arkiyah, M.IP. (Pustakawan Kampus 4 UAD)