Pentingnya Melanjutkan Dakwah Para Nabi
Situasi dunia saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Teknologi informasi mengalami metamorfosa dari perangkat yang sekedar membantu kerja-kerja manusia berkembang menjadi kebutuhan primer, tanpa teknologi informasi manusia akan mengalami kesukaran dalam aktifitas kesehariannya.
Teknologi informasi, utamanya perangkat-perangkat komunikasi masal telah memasuki ruang-ruang private, bahkan sudah menjadi ruang tertutup. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang publik kini semakin sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat pribadi.
Media sosial dapat memberikan dampak negatif pada kelanjutan dakwah, seperti penyebaran informasi salah, perpecahan umat, dan penurunan kualitas literasi keislaman dan langkanya orang-orang islam untuk melakukan dakwah Islam karena ketergantungan dan habisnya waktu kesehariannya untuk kegiatan tersebut. Akibatnya penerus dakwah jumlahnya lebih sedikit dari generasi sebelumnya. Tentu saja hal ini memunculkan kekhawatiran bagi para aktivis dakwah, sebagaimana juga dulu dirasakan oleh para nabi.
Al Qur’an merekam kekhawatiran para nabi berkaitan pewarisan dakwah ini. Nabi Zakaria dalam Al-Quran, khususnya di Surat Ali Imran ayat 38.
Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali-Imron: 38)
dan Surat Maryam ayat 4-7, mengungkapkan keluhan dan permohonan kepada Allah SWT terkait keturunannya yang belum juga ada.
Ia merasa tulang-tulang dan kepalanya sudah lemah karena usia senja, namun ia tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada Allah. Nabi Zakaria juga mengungkapkan kekhawatirannya jika tidak memiliki penerus, sehingga kaumnya akan menyimpang dari kebenaran.
Kemudian Allah mengabulkan permohonannya dan menjawab kehawatirannya dengan hadirnya Yahya sebagai penerus dakwah beliau.
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah melemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Yakub; dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai. (Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.(QS. Maryam: 4-7)
Dalam kontek menyiapkan pewaris, sebagaimana kisah Nabi Musa bersama nabi Khidr as, mengajak Yusya bin Nun yang kelak akan menjadi nabi sebagai pengganti beliau dan nabi Harun. Beliau adalah Nabi yang melanjutkan tugas estafet dari Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam. Nama beliau adalah ; Yusya’ bin Nun bin Afariim bin Yusuf bin Yakub bin Inshak bin Ibrahim Al Kholil alaihissalam. (Ibnu Katsir – Al Bidayah wa An Nihayah. Dari gemblengan nabi Musa itulah kemudian Yusya bin Nun, membebaskan Bani Israel dari Padang Tih setelah 40 tahun karena dihukum.
“(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu“. (QS. Al-Maidah : 26)
Yusya bin Nun memimpin pasukan Bani Israil masuk kota Palestina. Nabi Yusya’ bin Nun hanya memilih orang-orang terbaik saja dan serius untuk berjihad bersamanya. Tidak boleh ada satu orangpun yang memiliki ikatan dan kecintaan dengan urusan dunia ikut dalam peperangan ini.
Kisah Nabi Yusya bin Nun memilih pasukan untuk berperang dalam menaklukkan Baitul Maqdis (Yerusalem) melibatkan seleksi ketat. Nabi Yusya’ memilih pasukan yang benar-benar siap lahir batin, tidak terikat urusan duniawi yang dapat mengganggu fokus perjuangan.
Berikut adalah kriteria yang digunakan Nabi Yusya’ dalam memilih pasukannya:
Tidak baru menikah: Laki-laki yang baru menikah dan sedang menikmati masa-masa awal pernikahan dianggap belum sepenuhnya siap secara mental untuk berperang.
Tidak sedang membangun rumah: Seseorang yang sedang membangun rumah memiliki ikatan emosional dan tanggung jawab terhadap pembangunan tersebut, yang dapat mengalihkan perhatian dari tugas peperangan.
Tidak sedang menanti kelahiran ternak: Begitu pula dengan mereka yang sedang menanti kelahiran ternak, fokus mereka kemungkinan besar akan terpecah antara peperangan dan kelahiran ternak tersebut.
Nabi Yusya’ menekankan pentingnya kesiapan mental dan spiritual dalam berjihad. Dengan memilih pasukan yang benar-benar siap, beliau ingin memastikan bahwa tujuan utama, yaitu menaklukkan Baitul Maqdis, dapat tercapai dengan baik.
Hal ini dilakukan karena beliau ingin pasukan yang dibawa betul-betul serius berjihad untuk Allah karena perjuangan dakwah adalah bagian dari proyek pahala yang abadi.
Kontributor : Subagio
