Tahun Baru Hijriah sebagai Momentum Kebangkitan bagi Umat Islam
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( QS al-Baqarah,2:218.)
Makna hijrah dan sejarah
Sebentar lagi bertepatan tanggal 25 juni 2025 kita sudah memasuki Tahun Baru Hijriah 1447 H. Umat Muslim telah menyiapkan berbagai persiapan untuk menyambutnya. Tentu sebagai umat kita akan selalu menyambut kehadirannya dengan penuh suka cita seperti saat menyambut tahun baru Miladiyah pada umumnya. Dalam islam tahun baru hijriah merupakan tonggak sejarah penting bagi umat Islam. Pada hari itulah Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah, sebagai langkah awal strategis bagi kebangkitan Islam dan umat Islam di dunia. Peristiwa Hijrah yang dijadikan tanda bagi penanggalan awal tahun hijriah, tentu sarat dengan nilai-nilai, yang dapat mengantar kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Kata hijrah (هِجْرَةٌ) secara Bahasa berasal dari akar kata hajara (هَجَرَ) yang berarti berpindah (tempat, keadaan, atau sifat), atau menjauhkan diri, yakni menjauhkan diri memutus hubungan antara dirinya dengan pihak lain, sebagai upaya untuk untuk mengubah diri menjadi lebih baik, baik secara fisik maupun batin dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.. Dalam pengertian syar’iy, hijrah berarti, “perpindahan Rasulullah saw. bersama sahabat-sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah, kira-kira tahun ke-13 dari masa kenabiannya”. Atau “perpindahan dalam rangka meninggalkan kampung kemusyrikan menuju suatu kampung keimanan, dalam rangka melakukan pembinaan dan pendirian masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Atau meninggalkan tempat, keadaan, atau sifat yang tidak baik, menuju yang baik di sisi Allah dan Rasul-Nya (kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw.).
Dalam al-Qur’an, kata hijrah dengan segala bentuk kata jadiannya, digunakan sebanyak 31 kali, dengan mengacu kepada makna-makna sebagai berikut: (1) perintah meninggalkan keburukan dan kemaksiatan (QS al-Muddatstsir,74:5); (2) berpaling dari isteri yang tidak patuh (QS al-Nisâ’,4:34); (3) meninggalkan orang-orang yang tidak beriman dengan cara yang baik, tanpa melukai hati mereka (QS al-Muzammil,73:10); (4) Kembali kepada Allah dengan harapan mendapatkan hidayah-Nya (QS al-Ankabût,29:26); (5) meninggalkan tempat, keadaan, atai sifat, karena menuntut ridha’ Allah. (QS al-Nisâ’/4:89). Yang menarik pada ayat-ayat di atas, adalah Allah menggandengkan term hijrah dengan term jihad. Hal ini menunjukkan bahwa tercapai atau tidaknya tujuan hijrah adalah sangat bergantung pada sejauh mana dan sebesar apa semangat kejuangan yang diberikan ketika berhijrah. Dengan demikian, hijrah membutuhkan jihad dan niat yang benar karena Allah swt. Hijrah yang benar adalah yang didasarkan atas niat yang benar karena Allah, sebagaimana ditegaskan dalam HR. al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khattab, seperti tersebut di bawah ini.
- al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khattab berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda;
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Perbuatan-perbuatan itu hanyalah dengan niat dan bagi setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Karena itu, siapa yang hijrahnya itu kepada kerelaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya ialah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk memperoleh keduniaan atau wanita yang bakal dikawininya, maka hijrahnya itu ialah kepada apa yang telah dihijrahi.
Ritualitas dan penerapan dalam kehidupan
Dalam menyongsong masa depan Megadewa88 yang baru sebagai umat islam memerlukan persiapan yang baik agar perjalanan kita dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan. Disertai juga introspeksi diri atau muhasabah juga penting untuk dilakukan, baik sebagai individu maupun makhluk sosial. Dalam perjalanan kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari masa lalu, baik sebagai insan pribadi maupun dalam kapasitas sebagai makhluk sosial dengan tanggung jawab di lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Kesalahan dan kekhilafan adalah sunatullah, namun yang penting adalah bagaimana kesalahan tersebut tidak terulang kembali. Dalam momentum menyambut Tahun Baru Hijriyah ini, kita harus mau bermuhasabah diri atas apa yang telah kita lakukan dan harapan yang ingin diraih.
Menyambut tahun baru hijriah bukanlah sekedar ritualitas akan tetapi sebagai umat islam kita memaknai dengan nilai-nilai ibadah ritual yang memiliki moral, adab dan akhlak supaya sebuah ritual berdampak pada nilai kebudayaan yang beradab, tanpa meninggalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan dapat mencirikan bahwa Islam adalah agama yang dinamis, mencerahkan, dan Rahmatan lil Alamin. Umat Islam harus mampu membaca dan menyelaraskan diri dengan kondisi yang cepat berubah. Jika tidak, kita akan tertinggal jauh dari umat lainnya, baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan peradaban.
Jika kita mengaku sebagai umat beriman, kita harus memiliki nilai-nilai kehati-hatian agar kehidupan kita sesuai dengan syariat dan hakikat. Dengan demikian, umat Islam akan memiliki daya kekuatan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu berkontribusi untuk umat, bangsa, dan negara yang kita cintai. Mari kita hadapi Tahun Baru Islam 1447 H dengan harapan dan semangat hijrah, semangat yang harus senantiasa ditumbuhkan dalam sanubari kita sebagai umat islam yang bertaqwa untuk introspeksi diri, semangat perjuangan meraih impian, dan menjadi diri kita kian bermanfaat. Introspeksi diri dilakukan agar kita menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung, dimana hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Kemudian, ketika ada target dan harapan yang belum tercapai di tahun kemarin, maka teruslah berupaya di tahun ini untuk meraih estafet perjuangan dan impiannya.
Selamat menyambut Tahun Baru Hijriah 1447 H. Semoga kita senantiasa mendapat keberkahan dari Allah SWT. Aamiin..Aamiin..Aamiin Yaa Rabbal’alamiin..
Referensi:
https://uin-alauddin.ac.id/opini/detail/Hijrah-Sebagai-Awal-Kebangkitan–Islam-dan-Komunitas-Muslim
Kontributor: Tunggal Pribadi, S. S. I
