Tauhid, Tanggung Jawab, dan Warisan Keimanan dalam Surah Al-Baqarah 139-141
Surah Al-Baqarah ayat 139-141 adalah bagian dari Al-Qur’an yang menekankan pentingnya tauhid sebagai landasan hidup, dialog yang bijak dalam menghadapi perbedaan, serta tanggung jawab individu atas amal perbuatannya. Ayat-ayat ini memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam tentang bagaimana memahami keimanan, membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, dan menjaga warisan ajaran tauhid yang diwariskan oleh para nabi terdahulu.
Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang semakin pesat, ayat-ayat ini relevan untuk dijadikan pedoman. Umat Islam diingatkan bahwa Islam bukan hanya tentang identitas formal, melainkan mencakup keyakinan, akhlak, dan tanggung jawab moral yang mencerminkan ketaatan kepada Allah. Dengan memahami pesan dalam Surah Al-Baqarah 139-141, umat Islam dapat mengembangkan sikap yang bijak dan moderat, sekaligus meneguhkan keimanan mereka di tengah tantangan zaman.
Ayat 139: Tauhid dan Dialog Bijak
قُلْ أَتُحَٰٓجُّونَنَا فِى ٱللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُخْلِصُونَ
Terjemahan:
“Katakanlah (kepada Ahli Kitab), ‘Apakah kamu memperdebatkan tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhanmu? Bagi kami amal-amal kami, dan bagi kamu amal-amal kamu. Dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.'” (QS. Al-Baqarah: 139)
Ayat ini mengajarkan pentingnya keteguhan dalam keimanan kepada Allah yang merupakan Tuhan bagi seluruh umat manusia. Dalam konteks dialog dengan Ahli Kitab, umat Islam diajarkan untuk tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif. Pesan ini menekankan bahwa hubungan dengan Allah adalah urusan individu yang dilandasi oleh keikhlasan.
Implementasi dari ayat ini dalam kehidupan sehari-hari adalah pentingnya menjaga akhlak dalam berdialog dengan orang lain, terutama yang memiliki perbedaan pandangan. Umat Islam diajarkan untuk tetap menjunjung tinggi nilai toleransi, namun tanpa mengorbankan prinsip-prinsip keimanan.
Ayat 140: Meluruskan Klaim tentang Para Nabi
أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطَ كَانُوا۟ هُودًا أَوْ نَصَٰرَىٰ ۗ قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَٰدَةً عِندَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Terjemahan:
“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, ‘Apakah kamu yang lebih mengetahui, ataukah Allah?’ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya? Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 140)
Ayat ini meluruskan klaim dari golongan Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bahwa para nabi terdahulu adalah bagian dari golongan mereka. Pesan ini menegaskan bahwa para nabi adalah pengikut tauhid murni yang tidak terbatas pada golongan tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini mengajarkan umat Islam untuk memahami sejarah agama dengan benar dan tidak terjebak dalam klaim identitas yang tidak berdasarkan fakta. Selain itu, umat Islam diingatkan bahwa menyembunyikan kebenaran adalah bentuk kezaliman yang besar. Oleh karena itu, kejujuran dan integritas harus menjadi landasan dalam setiap perilaku.
Ayat 141: Tanggung Jawab Amal Individu
تِلْكَ أُمَّةٌۭ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْـَٔلُونَ عَمَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
Terjemahan:
“Itulah umat yang lalu; bagi mereka apa yang telah mereka usahakan, dan bagi kamu apa yang kamu usahakan. Dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 141)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas amal perbuatannya sendiri. Keimanan dan amal seseorang tidak dapat diwarisi, melainkan harus diusahakan secara pribadi. Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini memberikan pelajaran bahwa klaim identitas agama tidak akan membawa manfaat jika tidak diiringi oleh amal yang sesuai dengan ajaran Islam.
Kesimpulan
Surah Al-Baqarah ayat 139-141 memberikan pedoman yang jelas bagi umat Islam tentang pentingnya tauhid, integritas, dan tanggung jawab individu atas amal perbuatannya. Dalam ayat 139, umat Islam diajarkan untuk menjunjung tinggi tauhid dan keikhlasan dalam setiap amal ibadah, serta menjaga akhlak dalam berdialog dengan pihak lain yang berbeda pandangan. Ayat 140 menegaskan pentingnya memahami sejarah keimanan secara benar, serta menjauhi perilaku yang menyembunyikan kebenaran demi kepentingan tertentu. Sementara itu, ayat 141 mengingatkan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas amal perbuatannya sendiri, tanpa bergantung pada amal atau klaim keimanan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, pesan-pesan ini relevan untuk diterapkan dalam berbagai aspek. Umat Islam dituntut untuk menjadi teladan dalam menjaga hubungan baik dengan Allah melalui keikhlasan dan ketaatan, sekaligus membangun hubungan sosial yang harmonis dengan sesama manusia. Selain itu, tanggung jawab individu atas amal perbuatannya mengingatkan kita untuk terus memperbaiki diri dan fokus pada kontribusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di era yang penuh tantangan ini, pesan dari Surah Al-Baqarah 139-141 menjadi pengingat bahwa identitas Islam tidak hanya sebatas label, tetapi harus tercermin dalam akhlak, amal, dan kontribusi positif kepada dunia. Dengan menjadikan tauhid sebagai landasan hidup dan memahami tanggung jawab individu, umat Islam dapat menjalani kehidupan yang penuh berkah, sekaligus menjadi rahmat bagi seluruh alam. Pesan ini meneguhkan bahwa Islam adalah agama yang mengedepankan keimanan, akhlak, dan amal sebagai jalan menuju ridha Allah.
Referensi:
Ghazali, A. (2018). The legacy of faith in the Qur’an. Islamic Philosophy Press.
Nasr, S. H. (2001). The inheritance of faith: Beliefs and practices of the Islamic community. Oxford University Press.
Quran.com. (n.d.). Surah Al-Baqarah 139-141. Diakses pada 6 Desember 2024, dari https://quran.com/2/139-141
Kontributor
Anjas Alifah Bakry