Teladan dalam Menegakkan Hukum yang Adil

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi  orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

 (Al-ahzab-ayat-21).

Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh pemimpin yang luar biasa bagi umat Islam. Kepemimpinannya tidak hanya dilihat dari keberhasilannya dalam menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga dari bagaimana beliau memimpin dengan penuh kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan. Akhir-akhir bangsa dan negeri ini dwarnai berbagai demo di berbagai wilayah, ini sebagai tanda bahwa bangsa ini sudah mengalami krisis kepemimpinan. Banyak pemimpin daerah yang terjebak korupsi dan bahkan wakil-wakil rakyat di parlemen menampakan sifat dzolim terhadap rakyatnya. Dan seharusnya pemimpin-pemimpin bangsa ini harus mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan yang baik, serta pemimpin yang amanah dan mementingkan kepentingan rakyat.

Kepemimpinan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW dikenal sebagai pemimpin yang memiliki berbagai sifat terpuji. Berikut adalah beberapa ciri kepemimpinan beliau yang bisa dijadikan contoh:

Amanah. (Kepercayaan) Rasulullah selalu menjaga amanah yang diberikan kepadanya, baik itu dalam hal kecil maupun besar. Beliau tidak pernah mengkhianati kepercayaan orang lain. Bahkan Rasulullah adalah seorang yang diberikan gelar Al Amin (seorang yang terpercaya), dikenal dengan istilah “credible”, yakni ketika berbicara terjamin apa yang dikatannya, lisan, hati, sikap pasti sama  kejadianya. Perkataannya benar tidak ada kebohongan, kita dititipi amanah selalu dijalankannya dengan penuh kejujuran, tanggung jawab, dan dapat dipercaya oleh semua kolega-koleganya. Pada usia 12 tahun Muhammad sudah mulai berdagang ke luar negeri.

Adil. Keadilan adalah prinsip utama dalam kepemimpinan Rasulullah. Beliau tidak memihak dan selalu mengambil keputusan berdasarkan kebenaran dan keadilan. Di antara teladan Rasulullah yaitu adil dalam menegakkan hukum. Sebab selain sebagai penyampai risalah Tuhan, Nabi Muhammad Saw juga berperan sebagai khalifah atau pemimpin politik dan sebagai qadhi (hakim). Dalam perannya sebagai seorang hakim, Rasulullah tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Keadilan dan ketegasan Rasulullah tampak jelas dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah ra.

Suatu ketika di masa Rasulullah Saw, tepatnya pada peristiwa Fathu Makkah (penaklukan Kota Makkah), ada seorang wanita Quraisy yang mencuri. Ia adalah wanita bangsawan dari Bani Makhzum. Masalah ini membuat heboh kaumnya. Mereka tahu Rasulullah akan berbuat adil dalam menegakkan hukum atasnya. Mereka khawatir Rasulullah akan memotong tangan wanita Quraisy tersebut.

“Siapa yang berani mengomunikasikannya kepada Rasulullah Saw.?” Tanya mereka satu sama lain. Mereka pun sudah tahu jawabannya, “Siapa lagi kalau bukan Usamah bin Zaid, orang yang paling dicintai oleh Rasulullah Saw.”

Akhirnya mereka meminta Usamah untuk melobi Rasulullah Saw. Usamah pun mengomunikasikan hal itu kepada Rasulullah untuk meminta keringanan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan.

Tiba-tiba wajah Rasulullah Saw berubah menjadi merah (karena marah) seraya bersabda,

“Apakah kamu hendak meminta syafaat (keringanan) untuk menghindari suatu hukuman hudud (yang telah ditetapkan) Allah!”

Maka Usamah berkata kepada Nabi, “Mohonkanlah ampunan bagiku wahai Rasulullah.”

Tidak Adil dalam Hukum adalah Penyebab Kebinasaan kemudia sore harinya Rasulullah Saw berdiri dan berkhutbah,

“Para hadirin sekalian! Sungguh, yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang terpandang (pejabat, penguasa, atau elit masyarakat) dari mereka mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum). Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah putri Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Akhirnya Rasulullah menegakkan hukum atas wanita yang mencuri itu sebagaimana mestinya. Sehingga dipotonglah tangannya.

Kisah di atas menggambarkan betapa hukum itu tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Karena semua manusia sama di hadapan hukum. Baik itu sekelas pejabat dan penguasa maupun rakyat biasa. Bahkan keluarga yang paling dekat dan dicintai Rasulullah pun, sayyidah Fatimah, seandainya mencuri maka tidak ada jaminan untuk lolos dari hukuman.

Kasih saying. Rasulullah sangat penyayang terhadap umatnya. Beliau selalu memperhatikan kebutuhan dan kepentingan mereka, serta memberikan contoh melalui tindakan kasih sayangnya.

Kebijaksanaan. Dalam memimpin, Rasulullah selalu menunjukkan kebijaksanaan yang tinggi. Beliau mampu menyelesaikan berbagai konflik dengan cara yang bijaksana dan damai.

Kesederhanaan. Meskipun beliau adalah pemimpin besar, Rasulullah tetap hidup dalam kesederhanaan. Beliau tidak pernah memamerkan kekayaan atau kekuasaan yang dimilikinya.

Agar Indonesia dapat menjadi negara yang maju dan makmur, kita bisa mencontoh kepemimpinan Rasulullah dengan menanamkan sifat-sifat beliau dalam kehidupan sehari-hari dan pemerintahan. Kepemimpinan yang adil, amanah, dan penuh kasih sayang akan membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik dan harmonis. Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan kebaikan perilaku penduduknya serta pemimpin-pemimpinnya.

Mari kita selalu berdoa supaya kita diberikan pemimpin-pemimpin yang adil dan bijaksana seperti beliau baginda Rasulullah SAW.

Berikut adalah doa yang bisa dibaca untuk memohon agar diberikan pemimpin yang baik, amanah, dan mementingkan kepentingan rakyat:

اللهم إنا نسألك في ولاة أمورنا خيرا، اللهم اجعلهم صالحين مصلحين، راشدين هادين مهديين، يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، ويحبوننا ونحبهم، آمين.

Allahumma inna nas’aluka fi wulati umurina khairan, Allahumma ija’alhum shalihin mushlihin, rashidin hadin mahdiyin, ya’muruna bil ma’ruf wa yanhawna ‘anil munkar, wa yuhibbunana wa nuhibbuhum, amin.

Artinya: Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan dalam pemimpin-pemimpin kami. Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang saleh dan yang membawa perbaikan, yang bijaksana dan memberikan petunjuk yang benar, yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari keburukan, yang mencintai kami dan kami mencintai mereka.

Aamiin…Aamiin.. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin

Kontributor: Tunggal Pribadi, S. S. I (Pustakawan UAD Kampus 4)