yang sementara itu waktu, yang abadi itu amal
Demi masa (QS. 103:1)
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (QS. 103:2)
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. 103:3)
Fatamorgana keindahan dunia, permasalahan pelik yang dihadapi, dan dramanya yang terjadi dalam keseharian kerap mengalihkan kita pada tali ajaran agama Allah SWT. Disadari atau tidak, saat ini kita sedang berlomba dengan “waktu milik kita”. Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Begitu juga dengan makhluk yang bernyawa, semua akan sampai pada masanya yakni kematian. Seni mengingat kemantian itu indah, menjadikan kita selalu mawas diri untuk selalu on the track di jalan yang sudah Allah sampaikan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Beberapa keutamaan mengingat kematian:
1. Akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang serba menipu
2. Akan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
3. Mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiyaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk kematian
3. Membantu seorang muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT.
Ketika ada yang mencurangimu dengan segala macam cara dan motifnya, ingatlah hal ini “kita tidak akan hidup selamanya di dunia”. Kita akan diminta pertanggungjawaban hanya perbuatan kita. Jadi ketika kita dijahati orang, dicari-cari kesalahan maka slow aja. Selalu koreksi diri untuk berbenah. Jika kesalahan ada diri kita maka segera perbaiki diri namun jika semua rumor, fitnahan bahkan omongan menyakitkan itu muncul dari hati yang iri maka abaikan. Biarkan mereka dengan pendapat mereka. Kita tidak dapat mengontrol perbuatan orang lain yang ditujukan ke kita. Ambil hikmah yang terkandung dibalik setiap kejadian. Tetap berbuat baik, jujur, tanggung jawab dan mendekat padaNya. Jika ada yang sengaja berbuat jahat biarlah itu menjadi urusan mereka dengan Allah SWT.
Ada yang tau kapan manusia akan mencapai “garis finish“? Ada yang tau mengenai batas usia hidup di dunia?
Kontributor:
Ana Pujiastuti, M. A. (Pustakawan Kampus 4 UAD)